Amerika Serikat menegaskan tidak akan memberikan toleransi sedikit pun terhadap Iran dalam hal program nuklir, termasuk menolak keras produksi uranium yang diperkaya secara mandiri untuk keperluan sipil. Sikap tegas ini kembali disuarakan di tengah memanasnya hubungan kedua negara yang telah lama diwarnai kecurigaan dan ketegangan.
Isu nuklir menjadi batu sandungan utama dalam perundingan damai antara Washington dan Teheran. Bahkan, persoalan ini disebut-sebut sebagai salah satu pemicu serangan militer terbaru yang dilancarkan Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam pernyataannya menegaskan bahwa Iran sebenarnya tidak perlu memperkaya uranium sendiri jika tujuannya hanya untuk program nuklir sipil.
"Jika yang diinginkan Iran adalah program nuklir sipil, untuk pembangkit listrik dan hal-hal semacam itu, ada banyak negara yang memilikinya," ujar Rubio.
Menurut Rubio, Iran bisa mengimpor material yang telah diperkaya dari negara lain ketimbang memproduksinya secara mandiri. Pernyataan ini sekaligus menyiratkan kecurigaan Washington bahwa program pengayaan uranium yang dilakukan Teheran sejatinya diarahkan untuk kepentingan militer.
"Iran bertindak seolah-olah menginginkan program nuklir militer, yang menurut Washington tidak bisa diterima," tegasnya.
Sementara itu, Rubio mengakui bahwa operasi militer yang diberi nama Epiuc Fury telah usai. Serangan tersebut diyakini telah menghancurkan sejumlah fasilitas nuklir Iran, termasuk material uranium yang telah diperkaya dan kini terkubur di reruntuhan bawah tanah. Nasib material itu, menurut Rubio, menjadi persoalan yang harus diselesaikan melalui jalur negosiasi.
"Operasi telah selesai. Kita sudah menyelesaikan tahap itu," ujarnya.
Rubio menambahkan bahwa Presiden AS Donald Trump telah menegaskan bahwa proses negosiasi tidak hanya akan membahas masa depan program pengayaan uranium Iran, tetapi juga menyangkut material yang saat ini terkubur jauh di bawah tanah. "Hal itu harus dibahas, dan sedang dibahas dalam negosiasi," kata Rubio.
Artikel Terkait
Belanda Hadapi Swedia di Laga Krusial Piala Dunia 2026, Jerman Uji Kekuatan Lawan Pantai Gading
Jemaah Haji Napak Tilas Gua Hira, Saksi Bisu Turunnya Wahyu Pertama
PDIP Dinilai Masih Ambigu soal Sikap ke Pemerintahan Prabowo, Demokrat dan PKB Desak Kejelasan
Tabrakan Kereta Barang di Munich Tewaskan Satu Orang, Selang Beberapa Jam dari Kecelakaan Maut di Inggris