Puluhan ribu pekerja Samsung Electronics di Korea Selatan akhirnya sepakat. Mereka menyetujui rencana aksi mogok yang bisa bikin perusahaan was-was. Kalau benar-benar terjadi, aktivitas produksi chip memori mereka berisiko terganggu. Ini bukan ancaman main-main.
Menurut serikat pekerja Samsung, hasil votingnya cukup jelas. Dari sekitar 66 ribu pekerja yang memberikan suara, mayoritas mutlak tepatnya 93 persen memilih setuju untuk mogok. Dukungan massal ini jelas memberi tekanan ekstra pada manajemen.
"Dukungan yang luar biasa ini merupakan peringatan keras bahwa manajemen harus menanggapi tuntutan,"
Begitu pernyataan tegas dari serikat. Sampai berita ini diturunkan, pihak Samsung sendiri belum memberikan tanggapan atau komentar apa pun.
Nah, yang jadi persoalan besar di sini bukan cuma urusan internal Samsung. Pemogokan di raksasa chip ini berpotensi memperparah kondisi pasokan semikonduktor global. Dunia lagi ketat-ketatnya soal ini. Permintaan untuk pusat data AI melonjak drastis, yang otomatis menyedot pasokan dan bikin industri lain seperti otomotif, komputer, sampai smartphone ikut kelimpungan.
Serikat yang menggerakkan aksi ini mewakili hampir 90 ribu pekerja. Angka itu mencakup lebih dari 70 persen total karyawan Samsung di Korsel. Kekuatan mereka cukup signifikan.
Lantas, apa sih yang bikin para pekerja nekat? Rupanya, ada rasa frustasi yang mengendap. Mereka merasa ada kesenjangan gaji yang cukup jauh jika dibandingkan dengan pekerja di perusahaan pesaing, seperti SK Hynix. Perusahaan pesaing itu sendiri sudah lebih dulu menuruti tuntutan serikat pekerjanya soal reformasi kompensasi, tepatnya pada September lalu.
Karena itu, serikat pekerja Samsung mendesak perusahaan agar mengikuti jejak SK Hynix. Tuntutannya, hapus saja batasan untuk bonus, lalu kaitkan dana bonus itu dengan laba operasional perusahaan.
Di sisi lain, Samsung punya alasan sendiri. Perusahaan berargumen, menghapus batasan bonus justru akan menyulitkan mereka. Industri chip ini sifatnya siklikal dan butuh modal besar. Dana yang ada, menurut mereka, lebih baik dialokasikan untuk investasi masa depan agar tetap bisa bersaing.
Jadi, sekarang bola ada di tangan manajemen. Jika negosiasi gagal, rencananya aksi mogok akan digelar selama 18 hari, dimulai tanggal 21 Mei mendatang. Tunggu saja kelanjutannya.
Artikel Terkait
AS Tolak Toleransi Nuklir Iran, Tegaskan Pengayaan Uranium Mandiri Tak Diperlukan untuk Sipil
BNI Peringatkan Nasabah soal Modus Penipuan Digital yang Minta Data Sensitif
IMF Peringatkan Ekonomi Global Bisa Memburuk Parah Jika Konflik Timur Tengah Berlanjut hingga 2027
Operasi Militer AS-Israel ‘Epic Fury’ Berakhir, Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu dengan Iran Berlaku