Meski begitu, kerinduan itu selalu datang. Terutama saat lantunan takbir berkumandang. Saat itulah ia teringat pada keluarga di rumah, yang mungkin sedang menunggu kehadirannya.
"Oh, pastinya seperti itu," ungkapnya, lirih. "Karena memang manusiawi, kita tetap masih ada rasa kangen sama keluarga. Pengin bisa berhari raya bersama."
Anak-anaknya pun kerap meminta. Mereka ingin ayahnya bisa pulang dan duduk bersama saat Lebaran tiba. Namun begitu, tuntutan pekerjaan tak bisa dielakkan. Kerinduan harus ditahan, demi tugas yang dianggapnya mulia.
"Pasti ada, terutama dari anak-anak," tutur Cecep. "Mereka ingin kita kumpul di saat hari raya. Secara intinya, ada kerinduan pengin untuk bisa berlebaran. Tapi karena memang tugas kita yang utama untuk bisa memberikan pelayanan."
Dari semua pengorbanan waktu dan perasaan itu, harapannya sederhana. Ia ingin semua penumpangnya tiba dengan selamat. Cuaca baik, armada lancar, dan para pemudik bisa tertib selama perjalanan.
"Harapannya ya kita bisa mengantarkan para pemudik dengan baik," pungkasnya. "Khususnya, semoga cuaca baik-baik saja, tidak ada kendala satu pun. Armada sehat, dan para pemakai jasanya juga bisa tertib."
Sebuah pengorbanan panjang, yang mungkin tak banyak orang lihat. Tapi bagi ribuan pemudik yang berhasil sampai ke rumah, jasa orang-orang seperti Cecep adalah segalanya.
Artikel Terkait
Pemerintah Rencanakan WFH Satu Hari Seminggu untuk Hemat BBM
20.000 Pelaut Terjebak di Teluk Persia Akibat Blokade Selat Hormuz
Polri Imbau Warga Manfaatkan WFA untuk Antisipasi Macet Arus Balik Lebaran
Pemerintah Siapkan Aturan WFH untuk Efisiensi BBM