jelas Setio.
Dampaknya cukup terasa. Berdasarkan catatan AirNav, sekitar 20 penerbangan setiap harinya terkena efek penutupan ini. Angka ini mencakup penerbangan pulang-pergi. Sehari sebelumnya, bahkan tercatat 23 pesawat yang batal terbang gara-gara konflik yang sama.
Penerbangan yang biasa melintas ke Amsterdam, Jeddah, dan Abu Dhabi baik yang berangkat dari Soekarno-Hatta maupun Bandara I Gusti Ngurah Rai di Bali ikut merasakan perubahan ini. Rute mereka kini lebih panjang, berkelok, demi keselamatan.
Di sisi lain, situasi ini tentu menambah kewaspadaan semua pihak. AirNav sendiri berjanji akan terus mengawasi perkembangan di langit Timur Tengah. Tujuannya jelas: memastikan keselamatan navigasi penerbangan tetap jadi prioritas utama, apapun yang terjadi di bawahnya.
(Dhera Arizona)
Artikel Terkait
Jalur Kalimalang Sepi di Siang Bolong, Arus Mudik Motor Belum Meningkat
Ekspor Korea Selatan Melonjak 16,6% di Februari 2026, Didorong Semikonduktor AI
Iran Naikkan Upah Minimum 60% di Tengah Perang dan Inflasi Tinggi
Arus Mudik Lebaran 2026 di Tasikmalaya Capai 35.000 Kendaraan dalam Dua Hari