Di Istana Negara, Jumat lalu, Presiden Prabowo Subianto mengeluarkan pernyataan tegas soal kondisi keuangan negara. Intinya, pemerintah bertekad keras menjaga defisit APBN agar tidak jebol melewati batas 3 persen yang sudah ditetapkan undang-undang. Bahkan, ada cita-cita yang lebih jauh lagi.
"Kita berharap selalu menjaga agar defisit kita tidak bertambah. Bahkan cita-cita kita adalah, kalau bisa, kita tidak memiliki defisit," ujar Prabowo.
Pernyataan itu disampaikannya usai memimpin Sidang Kabinet Paripurna. Latar belakangnya jelas: ada kekhawatiran yang merayap di tengah ketidakpastian global. Konflik di Timur Tengah, yang mendorong harga minyak dunia naik, berpotensi membebani anggaran negara lewat subsidi BBM. Defisit bisa saja melebar kalau tidak dikendalikan.
Namun begitu, Presiden tak terlihat panik. Dia mengakui dampak konflik itu nyata, bisa mendongkrak harga energi sekaligus pangan. Tapi soal pangan, pemerintah punya keyakinan. Upaya swasembada yang digenjot selama ini dianggap sebagai tameng yang cukup kuat. "Kita, alhamdulillah, sudah mengamankan masalah pangan yang mendasar," katanya.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Turun ke Rp2,9 Juta per Gram di Akhir Pekan
Menteri ESDM Ungkap Dua Kapal Minyak RI Nyaris Ditarik Kembali Trader
BMKG Waspadai Potensi Hujan hingga April 2026, Siapkan Antisipasi untuk Mudik Lebaran
Pemerintah Tegaskan Belum Ada Perubahan Skema Haji 2026 Meski Ketegangan Timur Tengah Meningkat