Jakarta - Langkah Putri Kusuma Wardani di Swiss Open 2026 terus berlanjut. Atlet bulu tangkis tunggal putri Indonesia itu berhasil melibas wakil Thailand, Pitchamon Opatniputh, dalam laga perempat final yang berlangsung ketat di St. Jakobshalle. Kemenangan ini mengantarkannya ke babak semifinal.
Pertandingannya sendiri benar-benar ujian mental. Gim kedua menjadi momen krusial. Putri sempat tertinggal jauh, tapi berhasil bangkit dan membalikkan keadaan. Sebuah kemenangan yang, jujur saja, cukup menegangkan untuk disaksikan.
Usai laga, Putri tampak lega. Dia mengaku bersyukur bisa mengatasi tekanan yang begitu besar di lapangan.
“Bersyukur bisa memenangkan pertandingan hari ini,” ujarnya.
“Untuk keseluruhan, tidak menyangka bisa ambil gim kedua. Soalnya dari awal sudah tertinggal jauh,” tambahnya dengan nada jujur.
Menurut Putri, Opatniputh tampil solid. Postur tubuh lawannya yang tinggi memberi keuntungan tersendiri.
“Opatniputh menurut saya bermain sangat baik. Dengan postur yang tinggi dan jangkauan panjang, dia bisa bertahan dengan tenang. Defense-nya di gim kedua juga sudah lebih siap. Pola permainannya sengaja dia lambatkan dari gim pertama,” jelas Putri, menganalisis permainan sang lawan.
Laga itu jelas menguras tenaga. Namun begitu, kesabaran jadi kunci. Alih-alih buru-buru menyerang, Putri memilih bermain variatif dan menunggu momentum yang tepat.
“Cukup senang pastinya bisa keluar dari tekanan. Cukup berat mengejar banyak poin ketinggalan. Tapi saya coba sabar, tidak buru-buru, dan menambah variasi,” tuturnya.
Di semifinal, tantangan menunggu. Putri akan berhadapan dengan mantan juara dunia asal Jepang, Nozomi Okuhara. Bukan lawan sembarangan.
Putri menyadari betul hal itu. Gaya bermain Okuhara dikenal ulet dan sangat sulit untuk dimatikan.
“Besok lawan Okuhara yang pasti harus siap capek lagi. Bolanya akan lebih sulit dan tidak gampang mati. Dia punya spekulasi-spekulasi yang cukup baik,” ucap Putri, sudah mempersiapkan mental untuk duel yang melelahkan.
Di tengik kesibukan turnamen, ada hal yang dia nikmati: atmosfer Swiss. Suasana turnamen di sana, menurutnya, terasa nyaman dan menyenangkan. Sebuah penyegar kecil di antara tekanan pertandingan.
Artikel Terkait
China Peringatkan Bahaya ‘Kura-Kura Mata-Mata’ yang Diduga Jadi Alat Intelijen Asing
Ketua MPR Serukan Persatuan Negara Muslim di Tengah Kebangkitan Peradaban Islam Global
Ibas: Indonesia Tak Boleh Jadi Pasar Teknologi, Harus Jadi Pemain Utama Digital Global
Manajer Blueray Cargo Akui Beri Fasilitas Karaoke Rp40 Juta ke Oknum Bea Cukai