Ancaman balasan dari Iran kali ini terdengar keras. Setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim pasukannya telah membombardir target militer di Pulau Kharg, Angkatan Bersenjata Iran langsung membalas dengan ancaman mereka sendiri. Mereka berjanji akan menghantam infrastruktur minyak yang terkait dengan Amerika Serikat.
Menurut pernyataan resmi dari Markas Besar Pusat Al-Anbiya militer Iran, yang dilansir AFP, Sabtu (14/3/2026), serangan balasan itu bakal segera terjadi. Fasilitas minyak dan energi milik perusahaan-perusahaan yang bekerja sama dengan AS, kata mereka, akan "dihancurkan dan diubah menjadi timbunan abu". Syaratnya satu: jika fasilitas energi Iran benar-benar diserang.
Pernyataan bernada keras itu, yang juga dikutip oleh kantor berita Fars dan Tasnim, jelas merupakan jawaban langsung untuk Trump. Sehari sebelumnya, lewat platform Truth Social, Trump membuat klaim besar.
"Komando Pusat Amerika Serikat telah melancarkan salah satu serangan pengeboman paling dahsyat dalam sejarah Timur Tengah, dan benar-benar menghancurkan setiap target MILITER di permata mahkota Iran, Pulau Kharg,"
Begitu bunyi pernyataan Trump pada Jumat (13/3). Namun, dia memberi catatan. Trump mengaku sengaja tidak menyentuh infrastruktur minyak di pulau itu untuk sementara.
"Saya telah memilih untuk TIDAK menghancurkan infrastruktur minyak di pulau itu. Namun, jika Iran atau siapa pun melakukan sesuatu untuk mengganggu jalur pelayaran yang bebas dan aman melalui Selat Hormuz, saya akan segera mempertimbangkannya kembali,"
Nah, ancaman Trump yang kedua inilah yang kelihatannya memicu reaksi Teheran. Selat Hormuz, jalur sempit yang vital itu, memang jadi persoalan pelik. Biasanya, seperlima minyak mentah dan gas alam cair dunia melintas di sana. Tapi sejak akhir Februari lalu, selat itu ditutup. Pemicunya adalah serangan skala besar AS dan Israel terhadap Iran.
Iran pun tak tinggal diam. Mereka membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone ke Israel serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Situasi yang sudah panas jadi makin meluas, dan ancaman terhadap infrastruktur energi global kini menggantung di udara.
Artikel Terkait
Timnas Pencak Silat Indonesia Raih Empat Emas di Belgia, Taruna Akpol Turut Sumbang Prestasi
Jhonlin Radio 88.2 FM Raih Gelar Radio Lokal Terbaik di Anugerah KPI 2025
Polres Pandeglang Tetapkan 14 Tersangka Pengeroyokan yang Tewaskan Penyewa Mobil
Daniel, Pengusaha Mie Ayam Bintang, Ungkap Lima Kunci Sukses Skalakan Bisnis UMKM