"Rezim Zionis secara konsisten melanggengkan siklus kejam 'perang, negosiasi, gencatan senjata, lalu perang lagi' sepanjang sejarah yang menjijikkan. Kami akan memutus siklus ini," tegas Ghalibaf.
Ia lalu mengingatkan serangan pada Juni 2025. Saat itu, Iran terlibat perang 12 hari dengan Israel. Yang menarik, serangan itu justru dilancarkan di tengah-tengah perundingan nuklir. Persisnya tanggal 22 Juni, militer AS melakukan serangan udara terhadap tiga fasilitas nuklir Iran. Kejadian itu, bagi Iran, membuktikan bahwa negosiasi seringkali hanya jadi kedok sebelum serangan berikutnya datang.
Jadi, pesannya jelas: Iran tak mau terjebak dalam siklus yang sama. Mereka lebih memilih memberi pelajaran, sekalipun itu berarti konfrontasi terus berlanjut.
Artikel Terkait
Sumber Pemerintahan Sebut Mojtaba Khamenei Alami Luka Ringan, Keberadaannya Dipertanyakan
Iran Kecam Draf Resolusi DK PBB, Sebut Upaya Balikkan Fakta
InJourney Targetkan Konsolidasi 106 Hotel BUMN dalam Satu Payung
Persib Jaga Momentum Tak Terkalahkan Hadapi Borneo di Puncak Klasemen