Pasar saham kita hari ini diguncang aksi jual besar-besaran. Suasana tegang terasa bahkan sebelum dan sesudah trading dihentikan sementara. Bursa Efek Indonesia (BEI) sendiri menilai, ini murni aksi panic selling. Pemicunya? Kekhawatiran investor yang meluas menyusul isu kebijakan dari Morgan Stanley Capital International, atau MSCI.
Menurut Direktur Utama BEI, Iman Rachman, ada dua isu utama yang bikin pelaku pasar resah. Dua-duanya berkutat soal sikap MSCI, mulai dari pembekuan rebalancing indeks hingga desakan mereka untuk transparansi data kepemilikan saham.
"Jadi hasil daripada apa yang terjadi hari ini memang ada menurut saya panic selling karena 2 hal yang disampaikan di konsen adalah pertama untuk di bulan Februari rebalancenya di freeze," ungkap Iman di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (28/1).
Dia lalu menjelaskan maksudnya. Pembekuan rebalancing itu artinya, untuk sementara, komposisi saham Indonesia di indeks MSCI tidak akan diutak-atik. Tidak ada tambahan atau pengurangan.
"Jadi kalau kita terjemahkan apa yang disampaikan tidak ada penambahan atau pengurangan konstituen perusahaan tercatat kita di MSCI," katanya.
Tapi rupanya, bukan itu yang paling bikin galau. Kekhawatiran pasar justru meledak karena tuntutan lain dari MSCI: soal transparansi data kepemilikan saham. Menurut lembaga pemeringkat global itu, data yang diberikan Indonesia dinilai belum cukup.
"Tetapi memang yang jadi concern adalah kalau data yang mereka minta, jadi mereka artinya data yang kami usulkan mereka merasa tidak cukup," lanjut Iman.
Artikel Terkait
Merger Tiga Anak Usaha Pertamina Mundur ke Februari 2026
Di Balik IHSG Anjlok 8%, BEI Tegaskan Minat IPO Tak Surut
Indonesia Dapat Deadline 2026 dari MSCI, Ancaman Turun Peringkat Mengintai
GoTo Gelontor Bantuan Modal, Driver Ojol Dikawinkan dengan Bisnis Sendiri