Sudah beberapa hari berlalu, namun sosok pemimpin baru Iran itu masih belum terlihat. Mojtaba Khamenei, yang ditunjuk menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, sejak Minggu lalu, tetap menghilang dari pandangan publik. Keheningannya ini, tentu saja, memicu banyak spekulasi. Apa yang sebenarnya terjadi dengan pria 56 tahun itu?
Beredar desas-desus kuat bahwa Mojtaba mengalami luka akibat serangan Israel. Kabar ini cukup mengguncang, meski langsung dibantah keras oleh para pejabat di Tehran.
“Kondisinya baik-baik saja, tidak perlu dikhawatirkan,” tegas Yousef Pezeshkian, seorang pejabat yang tak lain adalah putra Presiden Masoud Pezeshkian. Pernyataannya ingin meredam segala keraguan.
Tapi, ceritanya jadi lain ketika seorang sumber dalam pemerintahan Iran berbicara kepada Reuters. Menurut sumber itu, memang benar Mojtaba menderita luka-luka ringan. Meski begitu, dia dikatakan masih tetap menjalankan kewajibannya sebagai pemimpin. Pejabat itu enggan merinci kapan persisnya kejadian itu atau alasan di balik kesunyian Mojtaba. Pertanyaan itu masih menggantung, tanpa jawaban yang memuaskan.
Sementara di layar kaca, televisi pemerintah justru menyiarkan narasi yang sangat berbeda. Seorang pembaca berita dengan suara khidmat membacakan pernyataan penuh gelar kehormatan.
“Yang Mulia, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, hari ini adalah pewaris darah ayahnya yang gugur, ibunya yang gugur, saudara perempuannya yang gugur, dan istrinya yang gugur.”
“Beliau, yang merupakan seorang janbaz (prajurit) Perang Ramadan, mewarisi jalan para martir yang bangga dan teguh di negeri ini,”
Di sisi lain, analisis intelijen Israel punya pendapat sendiri. Mereka menilai Mojtaba memang hanya terluka ringan. Dan itulah, kata mereka, alasan utamanya dia belum muncul ke publik.
Sebenarnya, sebagai putra sang pemimpin tertinggi atau "beyt" dalam tradisi Persia Mojtaba bukanlah figur baru di balik layar kekuasaan. Sudah bertahun-tahun dia terlibat langsung dalam urusan pemerintahan. Hanya saja, namanya tak terlalu akrab di telinga rakyat biasa. Dia jarang berpidato, hampir tak pernah tampil di depan umum. Figurnya lebih seperti bayangan. Kini, ketika tiba-tiba didorong ke pusat panggung, ketidakhadirannya justru yang paling banyak disorot.
Artikel Terkait
Penembakan di Jamuan Makan Gedung Putih, Pelaku Incar Trump dan Pejabat AS
BCA Pacu Transaksi Digital lewat Festival Multisport di Belitung
Arab Saudi Terapkan Sanksi Berat bagi Jemaah Haji Ilegal: Denda, Deportasi, hingga Dilarang Masuk 10 Tahun
Presiden Prabowo Teken Desain Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN, Target Rampung 2027