Dini hari tadi, langit di beberapa wilayah Israel kembali dihiasi jejak ledakan. Garda Revolusi Iran mengklaim telah melancarkan serangan udara gabungan yang cukup besar. Menurut mereka, operasi ini dilakukan bersama sekutu setianya dari Lebanon, yakni kelompok Hizbullah.
Dalam pernyataan yang dikutip kantor berita Fars dan Tasnim, disebutkan bahwa serangan ini merupakan sebuah "operasi gabungan dan terintegrasi." Intinya, rudal-rudal yang diluncurkan dari Iran berbarengan dengan hujan drone serta roket yang datang dari arah Lebanon. Menurut sejumlah saksi, suara sirene peringatan terdengar nyaring di tengah malam.
Operasi ini, kata mereka, memfokuskan serangan pada lebih dari lima puluh target di Israel. Beberapa lokasi strategis seperti pangkalan militer di Haifa, Tel Aviv, dan Beersheba masuk dalam daftar sasaran. Namun begitu, tidak hanya wilayah Israel yang jadi tujuan.
Pangkalan militer Amerika Serikat di dua lokasi lain juga ikut disebut sebagai target. Yakni di Al-Kharj, Arab Saudi, dan Al-Azraq, Yordania. Di Arab Saudi, pesan peringatan darurat sempat dikeluarkan, meski menurut koresponden AFP, tidak ada laporan kerusakan berarti. Sementara pihak Yordania dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada serangan yang terjadi di wilayah mereka.
Serangan ini tentu memperkeruh situasi yang sudah panas. Konflik di Timur Tengah sekarang ini rumit jalin-menjalin. Bukan cuma soal ketegangan Iran dengan Israel dan AS. Di perbatasan utara, Israel dan Hizbullah sudah berbulan-bulan terlibat baku tembak yang intens, saling balas membalas.
Nah, sehari sebelumnya, giliran Israel yang melancarkan serangan besar-besaran. Militer Israel mengumumkan aksi mereka pada Rabu waktu setempat, menyebutnya sebagai gelombang serangan skala besar.
Tujuannya? Menghancurkan infrastruktur Hizbullah di kawasan Dahiyeh, pinggiran selatan Beirut. Daerah itu dikenal sebagai bastion kekuatan kelompok yang didukung penuh oleh Teheran tersebut.
Jadi, lingkaran kekerasan ini seperti tak ada ujungnya. Setiap aksi memicu reaksi, dan ketegangan terus merayap naik, meninggalkan pertanyaan besar tentang bagaimana semua ini akan berakhir.
Artikel Terkait
Orang Tua Korban Daycare Little Aresha: Perlakuan ke Anak Lebih Sadis dari Kamp Guantanamo
Pembicaraan Langsung AS-Iran Batal, Trump Batalkan Kunjungan Utusan ke Pakistan
Petani Sambut Target Swasembada Pangan Prabowo, Harap Ego Sektoral Dikikis
Mantan Wamenaker Noel Akui Terima Rp 3 Miliar dari Pejabat Kemnaker, Bantah Pemerasan