Bahlil Kena Pinalti 151 Poin! Reshuffle Kabupaten Bisa Jadi Solusi?

- Selasa, 21 Oktober 2025 | 09:20 WIB
Bahlil Kena Pinalti 151 Poin! Reshuffle Kabupaten Bisa Jadi Solusi?

Nilai Minus 151 Bahlil Lahadalia: Analisis Kinerja Menteri ESDM Versi CELIOS

Nama Bahlil Lahadalia kembali menjadi sorotan publik setelah Center of Economic and Law Studies (CELIOS) memberikan nilai minus 151 untuk kinerjanya sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Angka negatif ini memicu pertanyaan besar tentang bagaimana seorang menteri bisa mendapatkan penilaian sedemikian rendah.

Metodologi Survei CELIOS: Bukan Survei Biasa

Survei CELIOS menggunakan metode expert judgment yang melibatkan 120 jurnalis dari 60 media nasional. Para jurnalis ini menilai kinerja menteri berdasarkan indikator kunci seperti transparansi, konsistensi kebijakan, dampak ekonomi, dan tata kelola sumber daya. Nilai minus 151 tersebut merupakan akumulasi penilaian negatif dari para profesional yang sehari-hari mengawasi isu kebijakan.

Penyebab Nilai Minus Bahlil Lahadalia

1. Isu Perpanjangan Izin Tambang Freeport

Kebijakan perpanjangan izin tambang Freeport dinilai dilakukan tanpa komunikasi publik yang memadai. Publik hanya mengetahui keputusan akhir tanpa memahami alasan dan kajian yang melatarbelakanginya, menimbulkan masalah serius dalam aspek transparansi.

2. Kebijakan Energi Baru Terbarukan yang Tidak Jelas

Arah kebijakan energi baru terbarukan (EBT) dinilai belum tegas. Janji transisi energi bersih masih kalah dengan dorongan ekspor batu bara dan nikel. Indonesia dianggap ragu-ragu dalam bergeser ke energi hijau, sementara dunia sudah bergerak ke arah tersebut.

3. Tumpang Tindih Kebijakan dan Koordinasi

Masalah koordinasi antara Kementerian ESDM dengan Kementerian Investasi dan BKPM memperparah penilaian kinerja. Kebijakan investasi dan energi yang tumpang tindih menciptakan ketidakpastian dalam iklim investasi.

Makna di Balik Nilai Minus 151

Nilai minus dari survei CELIOS seharusnya dipandang sebagai peringatan keras untuk perbaikan tata kelola energi nasional. Ini bukan vonis akhir, melainkan alarm bagi Kementerian ESDM untuk kembali ke prinsip transparansi, keberlanjutan, dan konsistensi kebijakan.

Bagi Bahlil Lahadalia, survei ini seharusnya menjadi momentum refleksi. Dalam dunia kebijakan publik, kritik yang jujur seringkali lebih berharga daripada pujian kosong, karena bisa menjadi titik balik menuju perbaikan yang substantif.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar