Menteri Haji dan Umrah, Mohamad Irfan Yusuf, baru saja mengungkap rencana pemerintah menyikapi situasi Timur Tengah yang memanas. Menghadapi konflik yang belum reda, Kemenhaj ternyata sudah menyiapkan dua skenario utama untuk haji 2026. Gus Irfan sapaan akrabnya menyebut keselamatan jemaah adalah hal yang paling utama.
“Prinsip utama dalam penyusunan skenario tersebut adalah menjaga keselamatan dan keamanan jemaah haji sebagai prioritas tertinggi,” tegasnya.
Perkataan itu disampaikan dalam rapat kerja dengan Komisi VIII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu lalu.
Skenario pertama? Ibadah haji tetap diberangkatkan. Tapi dengan syarat: Arab Saudi membuka penyelenggaraan, dan Indonesia bersedia mengambil risiko yang mungkin lebih tinggi. Nah, untuk mengantisipasi bahaya, pemerintah membuka opsi rute penerbangan baru. Rute ini akan menghindari sepenuhnya kawasan rawan seperti Irak, Syria, Iran, Israel, UAE, dan Qatar.
Jalurnya akan dialihkan ke Selatan, lewat Samudera Hindia, lalu masuk melalui ruang udara Afrika Timur atau jalur aman lain yang disepakati. Tentu saja, koordinasi intens dengan Pemerintah Arab Saudi terus dilakukan untuk memastikan zona penerbangan benar-benar aman.
Artikel Terkait
Pertamina Tegaskan Dua Kapalnya Masih Tertahan di Selat Hormuz
DPR Tetapkan Lima Komisioner OJK Periode 2026-2031, Friederica Widyasari Kembali Pimpin
Pemerintah Siapkan 10 Ruas Tol Fungsional untuk Antisipasi Kemacetan Mudik Lebaran 2026
Pemerintah Siapkan Aturan Batasi Akses Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun