JAKARTA – Ledakan keras mengguncang Kapal Musaffah 2 di perairan Oman, dekat Selat Hormuz, pada awal Maret lalu. Insiden ini tak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga menyangkut nasib sejumlah warga negara Indonesia yang bekerja di kapal tersebut. Menanggapi hal ini, KBRI Abu Dhabi langsung bergerak cepat untuk memantau perkembangan situasi dan memfasilitasi penanganan para korban selamat.
Mereka juga berusaha memastikan hak-hak serta perlindungan bagi WNI yang terdampak bisa terpenuhi. “Saat ini KBRI Abu Dhabi terus berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk dengan KBRI Muscat dan otoritas setempat, guna memperoleh informasi lebih lanjut mengenai penyebab insiden serta perkembangan proses pencarian korban,” demikian bunyi keterangan pers Kedutaan, Minggu (8/3/2026).
Dari keterangan salah satu korban selamat berinisial AEN, yang merupakan penumpang sekaligus engineer di kapal Musaffah 2, kronologi kejadian mulai terungkap. Rupanya, semua berawal dari kapal kontainer Safeen Prestige yang mengalami kerusakan di lokasi yang sama.
Perusahaan Safeen Provider lantas menugaskan Kapal Musaffah 2 untuk melakukan pemeriksaan dan upaya perbaikan. Kapal yang membawa 7 awak dan 6 teknisi itu berangkat dari Ras Al Khaimah, UEA, pada 5 Maret sore. Mereka tiba di lokasi sekitar pukul delapan malam waktu setempat.
Setelah diperiksa, kapal Safeen Prestige dinilai tak bisa diperbaiki di tempat karena kehilangan suplai listrik. Akhirnya, diputuskan untuk melakukan penarikan atau towing. Enam teknisi, termasuk AEN, naik ke kapal Safeen Prestige untuk mempersiapkan proses tersebut.
Artikel Terkait
Warga Bekasi Diingatkan: Imsak Kabupaten 04.31 WIB, Kota 04.32 WIB
Krisis Energi Global Paksa Bangladesh Liburkan Seluruh Universitas
Kiper Ajax Maarten Paes Buka Suara soal Ledakan Emosi Usai Kekalahan dari Groningen
Motif Ekonomi Diduga Jadi Pemicu Pembunuhan Istri Siri di Depok