"Visi kami jelas, ingin jadi pemimpin panas bumi dunia. Dan langkah konkret seperti inilah yang akan mewujudkannya," tambahnya.
Nah, setelah dokumen diserahkan, kerja sama PGE dan PLN akan masuk fase yang lebih teknis. Mereka akan mendalami kajian reservoir, desain fasilitas, hingga cara terhubungnya ke grid listrik regional. Tujuannya satu: memastikan proyek ini feasible, andal, dan berkelanjutan untuk jangka panjang.
Lokasi proyeknya sendiri berada di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Hululais, yang membentang di Kabupaten Rejang Lebong dan Lebong, Bengkulu. Daerah ini punya potensi panas bumi yang menjanjikan, terletak di sistem gunung berapi nonaktif dengan kondisi geologi yang mendukung.
Menariknya, di wilayah yang sama, PGE juga sedang menggarap proyek lain: PLTP Hululais Unit 1 dan 2 dengan kapasitas jauh lebih besar, 110 MW. Ini menunjukkan komitmen jangka panjang mereka di kawasan itu.
Secara keseluruhan, portofolio PGE memang terus mengembang. Saat ini mereka mengelola kapasitas terpasang 727 MW di enam wilayah operasi. Belum lagi proyek co-generation bersama PLN Indonesia Power yang total kapasitasnya mencapai 230 MW. Perkembangannya patut ditunggu.
Artikel Terkait
KPK Beberkan Kerugian Negara Rp24 Miliar dari Kasus Bupati Pekalongan
BI Tegaskan Fundamental Ekonomi Kuat Meski Fitch Ubah Outlook Jadi Negatif
Presiden Prabowo Gelar Buka Puasa Bersama Ulama, Bahas Ketegangan Timur Tengah
Tiket Mudik Lebaran KAI Terjual 2,1 Juta, Masih Tersedia 2,3 Juta Kursi