Namun begitu, lembaga yang berbasis di Washington ini mengakui bahwa situasi masih sangat dinamis. Mereka menegaskan masih terlalu awal untuk memprediksi dampak ekonomi secara pasti. Semuanya bergantung pada durasi konflik dan seberapa parah gangguan pada jalur perdagangan serta rantai pasokan energi global. Jika berlarut-larut, konsekuensinya bisa serius.
Bagaimanapun, timing-nya buruk. Ekonomi dunia saat ini sedang tidak dalam kondisi prima. Inflasi yang bandel, pertumbuhan yang melambat di sejumlah negara besar, plus ketegangan geopolitik di berbagai wilayah sudah jadi beban berat. Konflik baru ini ibarat bensin yang ditumpahkan di atas api.
“Situasinya tetap sangat dinamis dan menambah ketidakpastian lingkungan ekonomi global,” imbuh IMF.
Untuk mendapatkan analisis yang lebih mendalam, IMF berjanji akan menyajikan penilaian komprehensif dalam Laporan Prospek Ekonomi Dunia edisi April mendatang. Laporan itulah yang nantinya akan memberi gambaran lebih jelas seberapa dalam luka ekonomi yang mungkin ditinggalkan oleh konflik ini. Sementara itu, dunia bisnis dan para pembuat kebijakan hanya bisa menahan napas, menunggu dan berharap eskalasi tidak semakin menjadi-jadi.
Artikel Terkait
Menteri ESDM Pastikan Pasokan Batu Bara untuk PLN Aman Meski RKAB Ditata
Ekonomi Australia Tumbuh 2,6% di 2025, Lebih Kuat dari Perkiraan
Pertamina Naikkan Harga BBM Nonsubsidi, Pertalite dan Solar Tetap Stabil
Serangan AS ke Iran Habiskan Rp13 Triliun dalam 24 Jam