Serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran ternyata membawa konsekuensi tak terduga bagi militer Amerika. Persediaan rudal-rudal andalan mereka, termasuk Tomahawk dan pencegat SM-3, mulai menipis. Hal ini terungkap di tengah eskalasi konflik yang terus berlanjut.
Laporan soal kelangkaan ini pertama kali diangkat oleh CNN. Media AS terkemuka itu mengutip seorang pejabat senior Pentagon yang enggan disebut namanya. Menurut pejabat tersebut, AS justru bersiap untuk meningkatkan intensitas serangan dalam 24 jam ke depan.
"Kami mengantisipasi peningkatan besar dalam operasi," ujar pejabat itu.
Meski begitu, di gudang senjata, stok rudal serang dan pertahanan terus berkurang. Situasi yang cukup ironis, mengingat fase awal serangan disebut-sebut sukses melumpuhkan pertahanan Iran.
Nah, fase selanjutnya bakal lebih berat. Targetnya bergeser ke fasilitas produksi rudal, pabrik drone, dan kekuatan Angkatan Laut Iran. Semua target itu tentu butuh amunisi yang tidak sedikit.
Di sisi lain, ini bukan satu-satunya masalah. Sistem pertahanan udara Patriot juga ikut-ikutan langka. Penyebabnya? Perang di Ukraina. Selama empat tahun bertahan dari serangan Rusia, pasukan Ukraina telah menghabiskan sebagian besar pasokan rudal pencegat yang disuplai AS. Akibatnya, stok di Pentagon ikut terkuras.
Sampai saat ini, baik Pentagon maupun Gedung Putih belum memberikan komentar resmi. Namun, laporan serupa sudah beredar di sejumlah media, seperti Middle East Monitor dan TRT World dari Turki. Anadolu Agency juga memberitakan hal yang sama, Rabu lalu.
Jadi, situasinya rumit. Di satu front, operasi militer harus terus digenjot. Di sisi lain, persediaan amunisi kritis justru menipis. Sebuah dilema klasik dalam peperangan modern.
Artikel Terkait
Rem Blong Truk Hino Tewaskan Dua Pemuda dan Lukai Satu Orang di Sidrap
Gus Dur Pakai Bahasa Arab untuk Kibuli Intel Orde Baru di Muktamar NU
Lebih dari 2,5 Juta Warga Indonesia Hidap Penyakit Autoimun, Angka Kematian Diprediksi Capai 35.000
Gempa Magnitudo 4,3 Guncang Wilayah Timur Laut Jayapura