Wall Street menutup sesi perdagangan Rabu (22/4/2026) dengan catatan hijau. Penguatan ini tak lepas dari sentimen positif yang dibawa kabar perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Bahkan, Presiden AS Donald Trump memberi isyarat akan ada lebih banyak lagi pembicaraan damai ke depan.
Menariknya, konflik di Timur Tengah sepertinya mulai diabaikan para pelaku pasar. Perhatian mereka kini beralih ke musim laporan keuangan kuartal pertama. Tesla, misalnya, akan membuka hasil kinerja untuk klub "Magnificent 7" setelah jam perdagangan reguler usai.
Di papan angka, S&P 500 bertengger naik 1 persen ke level 7.137,12 poin. Sementara itu, NASDAQ Composite yang dipenuhi saham teknologi melonjak lebih tinggi, 1,6 persen, menjadi 24.657,57 poin. Kedua indeks ini mencatatkan penutupan di level rekor baru. Dow Jones Industrial Average juga ikut merangkak naik 0,7 persen, menetap di 49.490,77 poin.
Oliver Pursche, Wakil Presiden Senior di Wealthspire Advisors, punya pandangan menarik soal fenomena ini.
"Seperti halnya krisis pada umumnya, perhatian dan kesadaran risiko investor memudar seiring berjalannya krisis," ujarnya kepada Investing.com.
Ia menambahkan, ada 'efek kekayaan' yang sedang berlangsung. Nilai properti rumah ada di titik tertinggi, dan inflasi sebenarnya tak separah yang digembar-gemborkan headline berita. Kombinasi faktor-faktor inilah yang mendorong optimisme.
"Namun begitu, pertanyaan besarnya tetap sama: apakah kondisi optimis ini akan bertahan lama?" tandas Pursche.
Artikel Terkait
Pertamina Siapkan 80 Ribu Kiloliter Avtur untuk Dukung Penerbangan Haji 2026
Harga Emas Bangkit Kembali Didorong Aksi Beli Murah dan Ketegangan Geopolitik
BEI Kencangkan Aturan, Saham dengan Kepemilikan Terpusat Bakal Dikeluarkan dari Indeks Utama
Analis Prediksi IHSG Masih Rawan Koreksi, Targetkan Level 7.245