Namun begitu, bukan berarti tidak ada tantangan sama sekali. Amran juga menyoroti satu masalah serius: blokade Iran di Selat Hormuz. Jalur perdagangan internasional yang terancam itu berpotensi memicu inflasi harga sejumlah komoditas pangan. Karena itulah, mitigasi risiko mutlak diperlukan.
“Kami harus pastikan dengan kondisi geopolitik yang tidak menentu. Ini hampir pasti harga bahan-bahan bisa naik,” ucap Amran.
Tapi dia cepat menenangkan. “(Tapi) kita cukup protein, Indonesia aman.”
Di balik optimisme itu, ada fakta yang perlu dicermati. Ketergantungan Indonesia pada impor pupuk sebagai penunjang produksi pangan ternyata masih besar. Angkanya cenderung naik setiap tahun. Pada 2020 lalu, impor pupuk mencapai 6,2 juta ton. Lalu, melonjak jadi 7,52 juta ton di tahun 2024.
Data BPS pun mengungkap hal yang cukup mengkhawatirkan. Negara asal impor pupuk kita sebagian justru bersinggungan dengan konflik di Timur Tengah, seperti Mesir dan Rusia. Artinya, gangguan di sana bisa berimbas langsung ke sini.
Jadi, klaim stok aman memang terdengar melegakan. Tapi ancaman di jalur pasokan pupuk impor itu seperti duri dalam daging yang tak bisa diabaikan begitu saja.
Artikel Terkait
Pengadilan Perdagangan AS Tegaskan Importir Berhak Pengembalian Tarif Resiprokal Era Trump
Polri Desak Perbankan Perketat Pengawasan untuk Cegah Transaksi Judi Online
iNews Kerahkan 350 Jurnalis dan Kontributor Pantau Arus Mudik Lebaran 2026
Warga Bogor Buka Puasa Pukul 18.13 dan 18.18 WIB Hari Ini