Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo baru-baru ini membeberkan data yang cukup menggembirakan. Analisis dan Evaluasi Kecelakaan menunjukkan tren positif: angka kecelakaan lalu lintas ternyata turun. Ini kabar baik, tentu saja.
Namun begitu, di balik penurunan itu, ada catatan penting yang mesti jadi perhatian. Ternyata masih ada jam-jam tertentu yang berisiko tinggi, terutama saat arus mudik Lebaran sedang memuncak. Data inilah yang nantinya akan jadi bahan koreksi untuk menyambut mudik Lebaran tahun 2026.
Secara rinci, hasil evaluasi itu menunjukkan penurunan yang signifikan. Jumlah kecelakaan anjlok 31,43 persen. Yang lebih penting, korban jiwa berkurang drastis, sampai 53,24 persen. Untuk korban luka berat, penurunannya 7,19 persen, sementara luka ringan turun hampir 28 persen dibanding periode sebelumnya.
“Meski terjadi penurunan, masih ada waktu-waktu tertentu yang menjadi titik rawan kecelakaan dan perlu mendapat perhatian serius,”
Demikian penegasan Sigit saat memimpin rapat koordinasi Operasi Ketupat 2026 di Gedung PTIK, Jakarta Selatan, Senin lalu.
Nah, kapan sih waktu paling rawan itu? Dari analisis yang dilakukan, puncaknya terjadi antara pukul sembilan pagi hingga siang hari. Dalam rentang waktu itu saja, tercatat 532 kejadian. Cukup banyak, bukan?
Jam-jam tersebut dinilai kritis karena aktivitas di jalan raya sedang tinggi-tingginya. Orang berangkat kerja, ada yang memulai perjalanan antarkota, ditambah lagi dengan mobilitas harian lainnya yang memadati jalan.
“Selain faktor kepadatan lalu lintas, kondisi pengemudi juga dinilai berpengaruh terhadap meningkatnya angka kecelakaan pada jam tersebut,”
Ungkap Sigit lagi. Intinya, bukan cuma soal ramainya jalan.
Lalu, apa penyebab utamanya? Ternyata, kesalahan paling dominan adalah gagal menjaga jarak aman. Kasusnya mencapai 1.156 kejadian. Penyebab lain yang juga sering ditemui adalah kelalaian memperhatikan kendaraan di depan, plus faktor kecepatan yang nggak terkontrol.
“Kelelahan dan mengantuk saat berkendara masih menjadi faktor yang sering memicu kecelakaan, terutama pada perjalanan jarak jauh,”
Paparnya menambahkan. Hal ini kerap dianggap sepele, padahal akibatnya bisa fatal.
Ke depan, hasil analisis ini bakal jadi peta jalan bagi kepolisian. Fokusnya adalah meningkatkan sosialisasi tentang keselamatan berlalu lintas, terlebih saat mendekati masa mudik dan arus balik dimana mobilitas melonjak tajam.
Upaya sosialisasi dan edukasi ke masyarakat akan terus digenjot. Tujuannya jelas: menekan angka kecelakaan lebih rendah lagi di tahun 2026. Caranya? Melalui kampanye keselamatan, pengawasan ketat di titik-titik rawan, dan tentu saja, meningkatkan intensitas patroli pada jam-jam yang berisiko tinggi tadi.
Artikel Terkait
Berkas Perkara Ijazah Palsu Lima Tersangka Dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi DKI
Iran Buka Akses Penuh Selat Hormuz Selama Gencatan Senjata Lebanon Berlangsung
Kedatangan Patrick Kluivert ke Jakarta Banjir Sambutan, Latihan Barcelona Legends Terganggu
Kemenkes Luncurkan Sistem Pelabelan Nutri-Level untuk Kendalikan Gula, Garam, dan Lemak