Bursa Efek Indonesia (BEI) baru saja memindahkan tiga saham ke papan pemantauan khusus. Mulai pekan depan, saham-saham ini akan diperdagangkan dengan skema full-call auction (FCA). Yang dimaksud adalah saham PT Multi Garam Utama Tbk (FOLK), PT Sunson Textile Manufacturer Tbk (SSTM), dan PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS).
Keputusan ini resmi berlaku mulai 29 Desember 2025 mendatang.
“Perubahan ini mulai efektif pada tanggal 29 Desember 2025,”
kata Kepala Divisi Peraturan dan Layanan Perusahaan Tercatat BEI, Teuku Fahmi Ariandar, dalam pengumuman yang dirilis Kamis lalu.
Alasannya? Ketiga emiten ini memenuhi kriteria tertentu tepatnya kriteria 10 dalam aturan BEI. Intinya, saham yang terkena suspensi perdagangan lebih dari satu hari karena aktivitas di pasar otomatis akan dipindahkan ke papan khusus ini. Jadi, perpindahan ini bukan tanpa alasan.
Menariknya, pergerakan ketiga saham ini sepanjang 2025 benar-benar luar biasa. Ambil contoh FOLK, yang meroket hingga 880 persen sejak Januari. SSTM juga tak kalah fantastis, dengan kenaikan mencapai 878 persen dalam periode yang sama.
Sementara itu, SOTS punya cerita sendiri. Sahamnya melonjak akumulatif 250 persen sepanjang tahun, didorong oleh rencana perusahaan untuk menggelar rights issue. Kenaikan yang cukup signifikan, bukan?
Di sisi lain, BEI juga melakukan pembersihan di papan FCA. Dua saham akhirnya dikeluarkan dari pemantauan khusus, yaitu PT MD Entertainment Tbk (FILM) dan PT Red Planet Indonesia Tbk (PSKT). Jadi, ada yang masuk, ada juga yang keluar.
Nah, dengan skema FCA ini, perdagangan ketiga saham tadi bakal punya mekanisme lelang penuh. Artinya, likuiditas dan volatilitasnya akan diawasi lebih ketat. Kita lihat saja bagaimana dinamikanya nanti di pasar.
Artikel Terkait
Rupiah Kembali Tertekan ke Rp17.789 per Dolar AS, Dipicu Ketegangan Timur Tengah dan Kenaikan Harga Minyak
PT Singaraja Putra Rights Issue Rp721,5 Miliar untuk Akuisisi Tambang Batu Bara dan Pelunasan Utang
Kalbe Farma Bagikan Dividen Rp936,26 Miliar, Setara Rp20 per Saham
Wismilak Bagikan Dividen Rp217,87 Miliar, Laba Bersih Naik 40 Persen di 2025