Analis Proyeksikan Harga Emas Masih Fluktuatif, Tunggu Data AS dan Sentimen Global

- Minggu, 08 Februari 2026 | 22:15 WIB
Analis Proyeksikan Harga Emas Masih Fluktuatif, Tunggu Data AS dan Sentimen Global

Harga emas dunia tampaknya masih akan bergerak naik-turun di awal pekan. Proyeksi ini muncul setelah logam kuning itu mencatatkan penguatan cukup signifikan pada akhir pekan lalu. Pada Jumat (6/2/2026), harga emas ditutup di level USD4.960,39 per ons, melonjak hampir 4 persen. Kenaikan ini sekaligus menjadi rebound setelah sehari sebelumnya sempat anjlok ke posisi USD4.769,89.

Lalu, bagaimana pergerakannya ke depan? Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memberikan batasan-batasan kunci.

"Kalau harga emas dunia turun, support pertamanya itu di USD4.831 per troy ons. Sementara apabila harga emas dunia naik, resistance pertama itu di USD5.057 per troy ons," ujarnya dalam keterangan tertulis pada Minggu (8/2/2026).

Di sisi lain, emas dalam negeri juga tak kalah dinamis. Harga logam mulia Antam, misalnya, pada Sabtu (7/2/2026) tercatat naik Rp30 ribu menjadi Rp2.920.000 per gram. Ibrahim pun memproyeksikan pergerakannya masih akan fluktuatif, terkait erat dengan tren global.

"Apabila harga emas dunia naik pada resistance pertama di USD5.057, logam mulia kemungkinan (turun) di Rp2.800.000 per gram. Apabila (emas dunia) naik kembali, resistance kedua yaitu di USD5.170, logam mulianya (kemungkinan) di Rp2.900.000 per gram," jelasnya.

Memang, ada beberapa faktor yang membuat pasar emas seperti sedang tarik ulur. Menurut Ibrahim, salah satu pemicu ketidakpastian adalah ditundanya rilis data ketenagakerjaan AS untuk Januari 2026, imbas shutdown pemerintahan sementara. Data yang baru akan keluar Rabu depan ini sangat ditunggu, karena bakal jadi bahan pertimbangan The Fed dalam menentukan arah suku bunga.

Faktor geopolitik juga berperan. Sentimen dari Timur Tengah agak mereda setelah ada pertemuan delegasi AS dan Iran soal isu nuklir.

"Tapi ini pun juga masih belum sedikit mengangkat sentimen positif," kata Ibrahim, menyiratkan bahwa ketenangan itu masih rapuh.

Lalu ada lagi konflik Rusia-Ukraina. Presiden AS Donald Trump disebut menginginkan penyelesaian damai pada Mei-Juni mendatang. Namun begitu, Trump justru berpotensi memicu ketegangan baru dengan China setelah menuding negara tersebut diam-diam melakukan uji coba nuklir.

"Nah inipun juga sebenarnya intrik-intrik yang kemungkinan ke depannya akan membuat harga mas dunia masih berpotensi mengalami kenaikan," tambah Ibrahim.

Ia juga menyoroti faktor internal AS yang mempengaruhi pasar. Fluktuasi dan tren pelemahan harga emas belakangan ini, salah satunya didorong oleh kabar terpilihnya Kevin Warsh sebagai calon ketua The Fed pengganti Jerome Powell. Sosok Warsh dikenal hawkish, atau berpandangan agresif menaikkan suku bunga.

"Rupanya pasar ini masih apatis terhadap Kevin Warsh yang selalu menginginkan suku bunga tinggi. Dan ini pun walau sebenarnya sudah dibantah oleh Trump bahwa kalau seandainya tidak mengikuti keinginan Trump ya kemungkinan juga akan dipecat juga," pungkas Ibrahim.

Jadi, pekan depan, pasar emas tampaknya masih akan diwarnai oleh gejolak. Dari data ekonomi hingga pernyataan politik, semua berbaur menciptakan alur yang tak mudah ditebak.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar