Nah, di sinilah masalahnya buat Indonesia. Sebagai negara yang masih sangat bergantung pada impor minyak, kita termasuk yang paling rentan terpapar gejolak pasar global. Menurut Seto, transmisi dampaknya akan terlihat jelas dari harga energi, yang kemudian memengaruhi banyak sektor. Negara-negara pengimpor minyak lain pun bakal merasakan hal serupa.
Meski begitu, bukan berarti kita tak punya persiapan sama sekali. Seto menilai pemerintah sudah mengantisipasi risiko ini sejak awal. Langkah mitigasinya ada, misalnya dengan mendorong pengembangan biodiesel. "Strategi Pak Presiden kan dari dulu mencoba mengurangi ketergantungan impor. Biodiesel itu salah satu upayanya. Jadi kita berusaha menekan dependency terhadap minyak," tuturnya.
Lalu bagaimana dengan pasokan gas alam cair atau LNG? Soal ini, Seto terlihat sedikit lebih tenang. Dampak konflik terhadap pasokan LNG ke Indonesia dinilainya masih terbatas. Namun begitu, dia mengingatkan agar kita tetap waspada. Perlu dicermati perkembangan di sejumlah terminal LNG di kawasan konflik, siapa tahu ada gangguan yang tak terduga.
Intinya, situasinya memang mencemaskan. Namun dengan langkah-langkah yang sudah diambil, setidaknya ada sedikit tameng untuk mengurangi pukulan yang mungkin datang dari krisis di Timur Tengah itu.
Artikel Terkait
Kapolri Ungkap Penurunan Kecelakaan Lalu Lintas, Namun Jam 09.00-12.00 Tetap Rawan
Prabowo Panggil Menteri ESDM Bahas Antisipasi Dampak Penutupan Selat Hormuz
Air Kelapa Muda, Minuman Rehidrasi Alami yang Cocok untuk Berbuka Puasa
DEN: Ketegangan Timur Tengah Berpotensi Picu Lonjakan Harga Minyak Global