Iran Klaim Serang Pangkalan AS di Kuwait dan Kapal di Samudra Hindia

- Senin, 02 Maret 2026 | 17:35 WIB
Iran Klaim Serang Pangkalan AS di Kuwait dan Kapal di Samudra Hindia

Ledakan kembali menggema di seantero Teluk. Senin (2/3) waktu setempat, sejumlah saksi melaporkan dentuman terdengar di beberapa kota, termasuk di Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan tentu saja Kuwait. Suasana tegang itu ternyata bukan tanpa sebab.

Tak lama setelahnya, militer Iran angkat bicara. Mereka mengklaim baru saja melancarkan serangan. Sasaran mereka? Pangkalan udara Ali Al Salem milik Amerika Serikat di Kuwait, yang dikenal sebagai salah satu pangkalan utama AS di kawasan itu. Menurut pernyataan resmi mereka, unit rudal dari pasukan darat dan angkatan laut terlibat dalam operasi ini.

“Unit-unit rudal dari pasukan darat dan angkatan laut militer yang beroperasi dari berbagai lokasi menargetkan pangkalan udara Ali Al Salem milik AS di Kuwait serta kapal-kapal musuh di Samudra Hindia bagian utara selama beberapa jam terakhir,”

Begitu bunyi pernyataan militer Iran yang dikutip AFP, Senin (2/3/2026). Mereka juga menyebut menggunakan “15 rudal jelajah” dalam serangan terbaru ini.

Jadi, bukan cuma pangkalan udara di darat yang jadi sasaran. Kapal-kapal militer AS yang beroperasi di perairan Samudra Hindia bagian utara juga diklaim menjadi target tembakan Teheran. Serangan ini, bagi Iran, adalah bagian dari gelombang pembalasan.

Semuanya berawal dari Sabtu (28/2) lalu. Saat itu, Washington dan Israel membombardir posisi-posisi Iran. Sejak itulah, Teheran menjanjikan respons. Dan kini, mereka menepatinya dengan rentetan serangan yang sudah memasuki hari ketiga ke negara-negara Teluk yang diketahui menampung pasukan AS.

Kuwait, misalnya. Negeri kecil itu diperkirakan menjadi tempat penempatan sekitar 13.500 tentara Amerika. Pangkalan Ali Al Salem yang diserang jelas merupakan aset strategis. Dengan menyerangnya, Iran mengirim pesan yang keras dan jelas.

Namun begitu, situasinya masih berkembang. Serangan ini menandai babak baru ketegangan yang makin memanas di kawasan yang sudah rentan itu. Apa yang terjadi selanjutnya, semua mata tertuju pada respons Washington dan sekutunya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar