Perang terbuka antara Iran dan AS-Israel akhirnya pecah. Serangan balasan dan serangan awal saling susul-menyusul, membuat kawasan Timur Tengah makin panas dan tak menentu. Dampaknya langsung terasa: arus perdagangan minyak dunia mulai terganggu.
Kekhawatiran itu nyata. Beberapa perusahaan minyak besar dan pedagang dilaporkan memilih untuk berhenti sejenak, menunda pengiriman lewat Selat Hormuz. Langkah ini, meski sementara, bikin pasar waswas. Rantai pasok global bisa kacau, dan harga minyak tentu saja jadi taruhannya.
Seorang pejabat tinggi perusahaan, yang enggan disebutkan namanya, mengonfirmasi hal ini.
"Kapal-kapal kami akan tetap bersandar selama beberapa hari," katanya, seperti dikutip Reuters akhir pekan lalu.
Data dari Bloomberg pun seolah membenarkan situasi genting itu. Terpantau sejumlah kapal tanker minyak mulai menghindari selat strategis yang diapit Iran dan Oman itu. Jalurnya sih masih terbuka, dan beberapa kapal tetap nekat melintas. Tapi, pemandangan yang muncul justru penumpukan kapal tanker, baik di dalam maupun di luar pintu masuk selat. Seperti antrean panjang yang ragu-ragu untuk maju.
Pemicu semua ini jelas: serangan pre-emptive strike Israel dan AS terhadap Iran pada Sabtu pagi. Serangan itu bukan cuma menaikkan tensi konflik ke level baru, tapi juga yang lebih mengkhawatirkan merusak habis upaya diplomasi soal program nuklir Iran yang sudah alot itu.
Di tengah gejolak ini, posisi Selat Hormuz jadi kian krusial. Ini bukan selat biasa. Perairannya dalam dan lebarnya cukup, dirancang alam untuk dilintasi kapal-kapal raksasa pengangkut minyak. Fungsinya vital. Volume minyak yang mengalir lewat sini sangat besar, dan pilihan jalur alternatifnya sangat terbatas jika suatu saat selat ini benar-benar ditutup.
Angkanya mencengangkan. Menurut data EIA untuk tahun 2024, rata-rata 20 juta barel minyak melewati selat ini setiap harinya. Coba bayangkan, itu setara dengan 20 persen dari total konsumsi minyak seluruh dunia.
Nah, siapa pemain utamanya? Arab Saudi. Negeri Petro-Dolar ini adalah eksportir terbesar yang menggantungkan diri pada Selat Hormuz. Pada periode yang sama, aliran minyak Saudi yang melintas mencapai 5,5 juta barel per hari. Angka itu mencakup 38 persen dari total lalu lintas minyak di selat tersebut. Jadi, gangguan sekecil apa pun di sini, dampaknya akan bergema ke seluruh penjuru dunia.
Artikel Terkait
BNI Tegaskan Komitmen Kembalikan Dana Rp28 Miliar Nasabah Credit Union Aek Nabara
KPK Geledah Tujuh Lokasi, Temukan Surat Pengunduran Diri sebagai Alat Tekan Bupati Tulungagung
Iran Kritik Pernyataan AS yang Membingungkan Hambat Perundingan Nuklir
Indonesia Kutuk Serangan Mematikan terhadap Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon Selatan