Kadin pun mendesak adanya komunikasi yang lebih intens dengan pimpinan Badan Gizi Nasional. Tujuannya sederhana: mengurai masalah administrasi dan operasional yang membelit. Mitra-mitra Kadin punya harapan besar untuk membantu memperbaiki gizi anak-anak di daerah yang sulit dijangkau. Tanpa koordinasi yang baik, niat itu bisa mentah di tengah jalan.
Di sisi lain, komitmen Kadin tidak cuma soal mendirikan dapur. Mereka juga akan menyertakan kajian mendalam. Chandra menyebut rencana peluncuran 'MBGnomics', sebuah kajian untuk mengukur dampak ekonomi dari program MBG berbasis bukti ilmiah.
"Jadi kami minggu depan akan bikin FGD, mengundang semua pakar ahli-ahli. Nantinya akan kita launch untuk dilaporkan kepada Pak Presiden juga," jelasnya.
Secara angka, program MBG sebenarnya sudah menjangkau banyak orang. Data per 19 Januari 2026 menunjukkan ada 58,3 juta penerima manfaat. Sejak digulirkan 2025, program ini telah membentuk lebih dari 21 ribu Sentra Penyediaan Pangan dan Gizi. Realisasi anggarannya pun tidak main-main, mencapai Rp17,398 triliun per pertengahan Januari.
Yang menarik, realisasi anggaran hariannya melonjak signifikan. Angkanya menembus Rp855 miliar per hari, jauh melampaui periode sebelumnya yang hanya Rp8,55 miliar untuk dana operasional harian. Lonjakan ini menunjukkan skalanya yang semakin besar, meski tantangan di lapangan, terutama di wilayah 3T, masih perlu perhatian serius.
Artikel Terkait
BNPB: Jumlah Pengungsi Bencana di Sumatera Turun Signifikan Jadi 11.250 Orang
Anindya Bakrie Soroti Dumping dan Impor Ilegal sebagai Tantangan Ekspor Tekstil Bebas Bea ke AS
Afghanistan Klaim Tembak Jatuh F-16 Pakistan, Islamabad Bantah dan Sebut Serang Militan
DPR Desak Kemnaker dan Kemenhub Awasi Ketat Penyaluran THR Pekerja Ojol