Kadin Rancang Kajian MBGnomics dan Siap Manfaatkan Peluang Tarif AS

- Sabtu, 28 Februari 2026 | 03:20 WIB
Kadin Rancang Kajian MBGnomics dan Siap Manfaatkan Peluang Tarif AS

Jumat sore lalu (27/2), kediaman Anindya Novyan Bakrie di Jakarta Pusat ramai dikunjungi tamu. Bukan acara sosial biasa, melainkan pertemuan penting yang menghimpun seluruh ketua umum Kadin provinsi se-Indonesia. Agenda utamanya jelas: membahas langkah konkret untuk mendongkrak perekonomian.

Di sana, Ketum Kadin Indonesia itu mengingatkan, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikebut. "Target ekonomi kita harus terus tumbuh," tegas Anindya. Menurutnya, pengusaha di daerah punya peran krusial untuk memaksimalkan keunggulan kompetitif wilayah masing-masing. Akselerasi dibutuhkan di semua lini.

Nah, bicara strategi, Anindya menyoroti beberapa program unggulan pemerintahan baru. Dia menitikberatkan potensi dari Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih. Tapi, dia mengingatkan, upaya memacu ekonomi harus sejalan dengan realitas di lapangan. Capaian investasi dan jumlah lapangan kerja yang tercipta jadi tolok ukur penting.

Soal MBG, misalnya. Anindya merasa program ini butuh kajian mendalam. "Sehingga dalam waktu singkat, Kadin akan meluncurkan kajian MBGnomics," ujarnya.

Kajian itu, lanjutnya, akan mengeksplorasi bagaimana MBG tak cuma membantu 80 juta anak dan ibu menyusui, tapi juga menciptakan efek berantai yang positif.

"Turunannya, teman-teman daerah bisa menjadi pengusaha-pengusaha yang berhasil di bidang bahan bakunya, supply chain, ecosystem dan lain-lain," papar Anindya.

Di sisi lain, ada momentum lain yang tak boleh dilewatkan: penyesuaian tarif dagang dengan Amerika Serikat. Anindya menegaskan hal ini pada jajaran Kadin daerah. Beberapa industri diprediksi bakal untung, seperti tekstil, alas kaki, furnitur, sampai elektronik.

Kesempatan ini harus dimanfaatkan. Bukan cuma bertahan, tapi harus ofensif. "Bagaimana kita meningkatkan kapasitas produksi sehingga bisa menghasilkan ekspor dan devisa yang lebih," tuturnya.

Artinya, industri dalam negeri didorong untuk memperluas kapasitas dan mendiversifikasi produk. Jalan sudah dibuka, tinggal bagaimana kita melangkah lebih agresif ke pasar global.

Pertemuan itu pun ditutup dengan semangat kolaborasi yang menggebu. Tugas menanti, tapi peluangnya terbentang luas.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar