Dubes Iran Bantah Klaim Trump Soal Pembukaan Selat Hormuz

- Kamis, 16 April 2026 | 14:50 WIB
Dubes Iran Bantah Klaim Trump Soal Pembukaan Selat Hormuz

Dubes Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, dengan tegas menyangkal klaim terbaru dari mantan Presiden AS Donald Trump. Trump mengaku telah membuka Selat Hormuz secara permanen. Bagi Boroujerdi, pernyataan itu tak lebih dari sekadar propaganda.

“Jadi, saya pikir mereka menyembunyikan kekalahan mereka di balik semacam propaganda dan hal-hal seperti itu,” ujarnya.

Pernyataan itu dia sampaikan di Jakarta, Kamis lalu, usai menghadiri sebuah seminar internasional. Suasana saat itu terlihat cukup tegang. Boroujerdi lantas menjelaskan posisi negaranya dengan nada yang lugas.

Menurutnya, klaim Trump sama sekali tidak berdasar. Faktanya, Selat Hormuz sudah lama terbuka dan aman. “Ya, Anda tahu, Selat Hormuz itu sudah terbuka sebelumnya,” katanya. Ia menambahkan, jika AS datang ke Teluk Persia dengan misi ‘membuka’ selat itu, maka itu jelas sebuah kegagalan. Sebab, pekerjaan itu sudah selesai sejak lama.

Boroujerdi tak berhenti di situ. Ia menegaskan peran historis Iran sebagai penjaga kawasan. “Semua orang tahu bahwa Iran adalah satu-satunya kekuatan yang telah mengamankan Selat Hormuz dan Teluk Persia selama ratusan tahun,” tegasnya. Argumennya sederhana: Iran adalah kekuatan lokal yang menetap, sementara AS datang dari jauh. Perbedaan mendasar ini, baginya, membuat klaim Amerika sulit dipercaya.

“Anda tahu, Amerika Serikat berada di seluruh dunia, sementara Iran adalah kekuatan yang tinggal di kawasan ini. Jadi, saya tidak percaya klaim-klaim tersebut,” pungkas Boroujerdi.

Klaim Trump sendiri muncul sehari sebelumnya, lewat unggahan di platform Truth Social. Pada Rabu, 15 April 2026, ia menulis bahwa Selat Hormuz kini terbuka permanen berkat AS untuk China dan untuk dunia. “China sangat senang karena saya membuka Selat Hormuz secara permanen. Saya melakukannya untuk mereka juga dan untuk dunia. Situasi ini tidak akan pernah terjadi lagi,” tulis Trump.

Latar belakang klaim ini adalah situasi pelik di lapangan. Saat ini, Selat Hormuz memang berada di bawah bayang-bayang blokade dari kedua belah pihak, Iran dan AS. Blokade AS khususnya menyasar jalur maritim ke pelabuhan Iran, menyusul mandeknya negosiasi damai antara kedua negara yang digelar di Pakistan. Di tengah kebuntuan itulah, pernyataan Trump muncul, langsung dibantah keras oleh pihak Tehran.

Narasi dari kedua pihak pun bertolak belakang. Satu mengklaim membuka, yang lain menyebutnya sudah terbuka. Yang satu merasa sebagai penjaga, yang lain dianggap sebagai pihak luar yang gagal. Perang kata-kata ini, seperti biasa, meninggalkan publik mencerna fakta yang saling bersilangan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar