Ia menambahkan, ITDC terbuka untuk berkolaborasi dengan semua pihak. “Kami siap bekerja sama secara konstruktif dengan pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat. Tujuannya jelas, agar pengembangan KEK Mandalika berjalan terintegrasi dan memberi manfaat nyata,” tegasnya.
Secara teknis, koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara I juga telah dilakukan untuk percepatan normalisasi aliran dan pembersihan sedimen menggunakan alat berat.
Namun begitu, Pemprov NTB punya catatan lain. Mereka menilai penguatan infrastruktur di hilir harus dibarengi dengan perlindungan serius di hulu. Rehabilitasi lahan kritis dan pengendalian alih fungsi lahan jadi kunci. Untuk jangka panjang, rencananya meliputi rehabilitasi Daerah Tangkapan Air (DTA), normalisasi sungai dan saluran irigasi, hingga penataan sistem drainase terpadu yang berbasis ekologi.
Pemerintah juga tak lupa menyampaikan permohonan maaf kepada wisatawan dan masyarakat yang terdampak cuaca ekstrem ini.
Intensitas hujan ekstrem di NTB rupanya memang menunjukkan tren meningkat dalam lima tahun terakhir, berdasarkan data BMKG. Fakta itu, ditambah dengan kondisi alam Lombok Selatan yang berbukit dengan sungai-sungai musiman, membuat risiko banjir bandang selalu mengintai saat hujan tiba. Makanya, sekarang sedang digodok penguatan sistem peringatan dini (early warning system) berbasis digital untuk meningkatkan kewaspadaan.
Mandalika sendiri adalah Proyek Strategis Nasional yang diharapkan jadi destinasi sport tourism kelas dunia. Kejadian ini menyadarkan semua pihak bahwa membangun ketangguhan kawasan butuh kerja sama lintas sektor tidak hanya pemerintah dan pengembang, tapi juga melibatkan akademisi dan tentu saja, masyarakat sekitar.
Artikel Terkait
Kadin Rancang Kajian MBGnomics dan Siap Manfaatkan Peluang Tarif AS
Inspirasi Ceramah Singkat Ramadhan: Dari Kejujuran hingga Empati Sosial
Deva Mahenra Pulang ke Makassar untuk Antar Nenek ke Peristirahatan Terakhir
Sahur On The Road Bisa Diisi Kegiatan Bermakna, Ini 5 Ide Alternatif