Proyek ambisius ini tak dikerjakan sendirian. OIKN menggandeng sebuah konsorsium yang dipimpin oleh Eficens Systems Inc sebagai pelaksana teknis. Beberapa nama lain seperti Frost & Sullivan, ASECH Indonesia, Mirekel, dan PT Searce Technologies Indonesia juga turut serta.
Di sisi lain, Subhranshu Sekhar Das, Anggota Dewan Frost & Sullivan sekaligus Project Director inisiatif ini, punya pandangan yang lebih futuristik. Ia membayangkan Nusantara melampaui konsep smart city biasa.
"Nusantara memiliki peluang untuk menjadi lebih dari sekadar kota cerdas," ujar Das.
"Nusantara dapat berevolusi menjadi Cognitive City. Seiring transformasi industri pengetahuan global, kota-kota harus beralih dari infrastruktur digital yang statis menuju sistem kecerdasan yang adaptif."
Pada akhirnya, kolaborasi lintas sektor ini menunjukkan komitmen yang kuat. OIKN ingin memastikan IKN tidak hanya maju secara fisik dengan gedung-gedung megah. Lebih dari itu, kota ini harus punya fondasi digital yang matang, aman, dan benar-benar siap menghadapi tantangan masa depan.
Cetak biru yang nantinya dihasilkan diharapkan bisa jadi landasan konkret. Bahkan, mungkin saja bisa menjadi model percontohan bagi pengembangan kota cerdas lainnya, baik di Indonesia maupun di tingkat global. Harapannya tentu besar. Sekarang, tinggal menunggu eksekusinya.
Artikel Terkait
Wamen Investasi: Perizinan Berbelit Sebabkan Indonesia Kehilangan Potensi Investasi Rp1.500 Triliun
Mendag Targetkan Transaksi TEI 2026 Capai USD 17,5 Miliar
Imsak Jakarta Jumat 27 Februari 2025 Pukul 04.33 WIB
Gubernur DKI Targetkan Program LPDP Jakarta Dimulai 2027, Sempat Terhambat Pemotongan DBH