Proyek ambisius ini tak dikerjakan sendirian. OIKN menggandeng sebuah konsorsium yang dipimpin oleh Eficens Systems Inc sebagai pelaksana teknis. Beberapa nama lain seperti Frost & Sullivan, ASECH Indonesia, Mirekel, dan PT Searce Technologies Indonesia juga turut serta.
Di sisi lain, Subhranshu Sekhar Das, Anggota Dewan Frost & Sullivan sekaligus Project Director inisiatif ini, punya pandangan yang lebih futuristik. Ia membayangkan Nusantara melampaui konsep smart city biasa.
"Nusantara memiliki peluang untuk menjadi lebih dari sekadar kota cerdas," ujar Das.
"Nusantara dapat berevolusi menjadi Cognitive City. Seiring transformasi industri pengetahuan global, kota-kota harus beralih dari infrastruktur digital yang statis menuju sistem kecerdasan yang adaptif."
Pada akhirnya, kolaborasi lintas sektor ini menunjukkan komitmen yang kuat. OIKN ingin memastikan IKN tidak hanya maju secara fisik dengan gedung-gedung megah. Lebih dari itu, kota ini harus punya fondasi digital yang matang, aman, dan benar-benar siap menghadapi tantangan masa depan.
Cetak biru yang nantinya dihasilkan diharapkan bisa jadi landasan konkret. Bahkan, mungkin saja bisa menjadi model percontohan bagi pengembangan kota cerdas lainnya, baik di Indonesia maupun di tingkat global. Harapannya tentu besar. Sekarang, tinggal menunggu eksekusinya.
Artikel Terkait
Sunderland Tundukkan Tottenham 1-0 Berkat Gol Tunggal Mukiele
BI Perkuat Intervensi di Pasar Valas untuk Jaga Stabilitas Rupiah
Aset Bank Syariah Nasional Tembus Rp76 Triliun di Kuartal Pertama 2026
OJK Ubah Aturan SLIK, Hanya Catat Pinjaman di Atas Rp1 Juta untuk Akselerasi KPR Subsidi