“Kalau yang saya kaji memang otak Jokowi, ya harus saya sebut seperti itu. Otak Jokowi yang saya bedah dalam buku ini,” jelasnya lagi. Metode yang digunakannya ia sebut sebagai ‘neuropolitika’, sebuah pendekatan yang ia kembangkan sendiri.
Neuropolitika itu sendiri merupakan perpaduan dari empat dimensi ilmu. Ada neurosains, psikologi perilaku, forensik, dan tak ketinggalan, politik kritis. Gabungan yang cukup unik, bukan?
Dr. Tifa kemudian menjabarkan sedikit isi bukunya. Katanya, ada banyak bagian otak Jokowi yang ia analisis. Mulai dari otak depan tempat memori primer dan sekunder disimpan, memori jangka pendek, hingga bagian dalam seperti hipokampus.
“Saya sengaja membagikan ilmu ini agar semua orang bisa mempelajarinya,” bebernya dengan semangat. “Jadi bukan cuma saya yang meneliti. Siapa pun bisa melakukan pengkajian terhadap otak politiknya, terutama bagaimana otak itu digunakan selama sepuluh tahun memimpin negara.”
Di sisi lain, “Otak Politik Jokowi” bukan satu-satunya buku yang diluncurkan hari itu. Ada satu karya lain berjudul “Jalan Samurai Akademik, Nalar, Keberanian, dan Tanggung Jawab Ilmiah Dr Tifa”.
Buku kedua ini adalah karya kolektif. Ditulis oleh sekelompok peneliti dan ilmuwan neurosains, termasuk beberapa mahasiswa yang sedang menyusun tesis. Mereka penasaran dan ingin meneliti lebih jauh tentang jalan pikiran Dr. Tifa sendiri. Sebuah bentuk refleksi yang menarik, di tengah hiruk-pikuk pembedahan otak figur politik.
Artikel Terkait
BRI Salurkan KPR Subsidi Rp17,13 Triliun hingga Maret 2026
Progres Sekolah Rakyat Surabaya Capai 45%, Ditargetkan Rampung Sebelum Juni 2026
Iran Ancam Tutup Selat Bab al-Mandeb Balas Blokade AS di Hormuz
KPK Tuntut Dua Eks Dirut Pertamina Kasus Korupsi LNG Senilai Rp1,7 Triliun