Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya Zano dan Ruha mencuri perhatian. Portofolio mereka sudah dihiasi sederet penghargaan. Sebut saja juara 1 di ajang ICSIT tingkat ASEAN pada Desember 2025, runner up di ASEAN Innovative Science Environmental and Entrepreneur Fair (AISEEF) Februari lalu, dan juga runner up di Indonesia International Applied Science Project (I2ASPO) tahun 2024 di Surabaya.
“Kami ingin mengembangkan lagi hasil penelitian ini untuk membantu orang-orang (menyembuhkan diabetes),” sambung Ruha menegaskan komitmen mereka.
Namun begitu, untuk bisa terbang ke Amerika, mereka masih butuh dukungan. Keduanya berharap ada perhatian lebih dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, serta pihak swasta. Dukungan itu dianggap penting untuk mendukung generasi muda berbakat seperti mereka agar bisa bersaing di kancah internasional.
Menariknya, di balik keseriusan mereka di lab, Zano dan Ruha juga punya kehidupan lain yang berwarna. Mereka adalah musisi. Ruha jago memainkan keyboard, sementara Zano adalah gitaris. Mereka tergabung dalam grup band yang sama, Gita Dusa. Di bidang ini pun prestasi tak kalah gemilang: juara 2 festival musik nasional dan Juara 1 Wali Kota Cup pada 2023.
Kini, sebagai siswa kelas XI SMAN 1 Semarang yang berasal dari SMPN 21 yang sama, perjalanan Zano dan Ruha adalah bukti bahwa passion di ilmu pengetahuan dan seni bisa berjalan beriringan. Mereka tak hanya pandai meneliti, tapi juga piawai mencipta melodi.
Artikel Terkait
IKI Februari 2026 Sentuh Level Tertinggi Kedua, Mayoritas Subsektor Masih Ekspansi
Pemerintah Godok RUU Kewarganegaraan, Syarat Jadi dan Lepas WNI Diperketat
Kapolri Listyo Sigit Prabowo Minta Maaf atas Gesekan Polisi-Masyarakat
Dr. Tifa Luncurkan Buku Otak Politik Jokowi Hasil Riset Neuropolitika