Pilih manis alami. Kalau mau takjil manis, utamakan yang berasal dari gula alami. Kurma, buah segar, atau kolak dengan pemanis secukupnya jauh lebih baik. Gula alami ini membantu menaikkan kadar gula darah secara perlahan, tidak melonjak tiba-tiba.
Waspadai gorengan. Ya, memang sulit ditolak. Tapi ingat, kandungan lemak jenuhnya tinggi. Kalau memang ingin, batasi porsinya. Jangan dijadikan menu harian. Gorengan itu minim nutrisi, tapi kalorinya justru berlimpah.
Jangan lupa cairan. Berbuka adalah waktu krusial untuk mengembalikan hidrasi tubuh. Pilih air putih, air kelapa, atau minuman rendah gula. Hindari minuman bersoda atau yang terlalu manis karena malah bikin cepat haus lagi. Usahakan minum cukup dari buka sampai sahur.
Utamakan gizi seimbang. Anggap takjil hanya sebagai pembuka. Menu utama tetap harus lengkap: karbohidrat, protein, sayur, dan buah. Mengingat dalam sehari hanya ada dua waktu makan besar, pastikan nutrisi yang masuk benar-benar mencukupi kebutuhan tubuh.
Intinya, puasa Ramadan sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk mendetoks tubuh. Kuncinya adalah pengaturan diri. Dengan cara itu, kita tetap bisa menikmati kehangatan buka puasa dan ragam takjil, tanpa dibayangi rasa khawatir.
Artikel Terkait
Kurma di Bulan Ramadan: Tradisi Berbuka yang Didukung Bukti Ilmiah
Ragam Jenis Kurma untuk Berbuka Puasa, dari Ajwa hingga Safawi
Pertamina Geothermal Energy Targetkan Pasang Teknologi Flow2Max® di Filipina pada 2026
Pemerintah Bentuk Tim Khusus Percepat Proyek LNG Raksasa Masela