Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Trump, Responsnya Malah Tarif Baru 10%

- Minggu, 22 Februari 2026 | 01:20 WIB
Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Trump, Responsnya Malah Tarif Baru 10%

Keputusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan wewenang Donald Trump menetapkan tarif impor global baru saja memicu gelombang kecemasan di Asia. Mitra dagang Amerika Serikat di kawasan ini kini menghadapi ketidakpastian baru. Pasalnya, sebagai respons, Trump malah mengumumkan tarif impor baru sebesar 10 persen, yang rencananya berlaku selama 150 hari mulai 24 Februari.

Trump jelas tak terima. Ia menyebut putusan itu sangat mengecewakan. Bahkan, dengan nada keras, ia menuduh para hakim Mahkamah Agung terpengaruh oleh kepentingan asing. Putusan pengadilan itu sendiri membatalkan sejumlah tarif yang sebelumnya dikenakan pada eksportir utama Asia mulai dari China, Korea Selatan, hingga Jepang dan Taiwan. Padahal, negara-negara itu adalah pemain kunci dalam rantai pasok teknologi global, dengan Taiwan sebagai produsen chip terbesar dunia.

Analis mulai memperingatkan. Mereka khawatir ini bukan akhir cerita. Bisa saja muncul kebijakan tambahan dari Trump nanti, yang justru akan membuat pelaku usaha dan investor semakin bingung.

Reaksi dari berbagai ibukota pun berdatangan, meski dengan tingkat urgensi yang berbeda-beda.

Di Tokyo, juru bicara pemerintah mengatakan Jepang akan mengkaji dengan cermat isi putusan ini. Mereka berjanji akan merespons pemerintahan Trump secara tepat.

Sementara China, yang sedang bersiap menyambut kunjungan Trump akhir Maret, masih diam. Negeri Tirai Bambu itu sedang dalam masa libur panjang, jadi belum ada komentar resmi atau langkah balasan. Namun, di Hong Kong, seorang pejabat senior keuangan tak menyembunyikan pandangannya tentang situasi di AS.

“Ini menunjukkan stabilitas kebijakan Hong Kong dan kepastian yang kami miliki. Ini menunjukkan kepada investor global pentingnya prediktabilitas,”

kata Sekretaris Layanan Keuangan dan Perbendaharaan Hong Kong, Christopher Hui, dalam konferensi pers Sabtu lalu. Menurutnya, tarif baru Trump justru menegaskan keunggulan perdagangan unik wilayahnya.

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar