Jakarta – Serangan rudal dan drone yang dilancarkan Iran beberapa waktu lalu berhasil dihadang. Tapi, ceritanya tak sesederhana itu. Uni Emirat Arab, bersama Yordania dan negara-negara Teluk, memang menunjukkan kemampuan pertahanan udaranya dengan menembak jatuh sebagian besar ancaman yang datang.
Namun begitu, dampaknya tetap terasa. Puing-puing dari proyektil yang meledak di udara itu berhamburan. Dan inilah yang justru menimbulkan masalah serius di bawah.
Duta Besar UEA untuk Indonesia, Abdulla Salem AlDhaheri, memberikan gambaran yang cukup detail. Pertemuan di Kedutaan Besarnya di Jakarta, Rabu (8/4/2026), mengungkap angka-angka yang mencengangkan.
"Hingga 7 April lalu, sistem kami telah mendeteksi dan mencegat 520 rudal balistik, 26 rudal jelajah, dan tidak kurang dari 2.221 drone," ujar AlDhaheri.
Tapi, lanjutnya, jatuhnya serpihan-serpihan itu tak terhindarkan. "Korban jiwa dari warga sipil berjumlah 13 orang. Yang luka-luka mencapai 217. Infrastruktur vital seperti bandara, pelabuhan, hingga permukiman warga juga mengalami kerusakan."
Di sisi lain, ada fakta menarik dari pola serangan ini. Menurut sang Duta Besar, sasaran utama Iran ternyata bukan Israel seperti yang mungkin banyak diduga orang.
"Data terbaru kami menunjukkan sekitar 85 persen serangan diarahkan ke negara-negara GCC dan Yordania," jelas AlDhaheri. "Hanya sekitar 15 persen yang benar-benar menuju Israel."
Jadi, meski pertahanan udara mereka canggih dan efektif, ancaman di kawasan itu nyatanya belum berakhir. Puing yang bertebaran dan korban di darat menjadi pengingat pahit bahwa dalam konflik modern, kemenangan di udara tidak serta-merta berarti aman di tanah.
Artikel Terkait
Macron Puji Ketegasan Prabowo Perjuangkan Perdamaian dan Kedaulatan Palestina
Pelayanan Haji 2026 Meningkat Signifikan, Jemaah Tak Temukan Keluhan Berarti
48 Tewas dalam Bentrokan Faksi FARC di Amazon Kolombia Jelang Pemilu Presiden
Kementerian PKP Validasi 188 Lokasi Tanah untuk Percepatan Pembangunan Rusun dan Kota Satelit