Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Trump, Responsnya Malah Tarif Baru 10%

- Minggu, 22 Februari 2026 | 01:20 WIB
Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Trump, Responsnya Malah Tarif Baru 10%

Memang, status Hong Kong sebagai wilayah pabean terpisah melindunginya dari tarif AS yang langsung menargetkan barang-barang China daratan. Produk buatan Hong Kong biasanya menghadapi tarif lebih rendah, jadi arus perdagangannya relatif masih terjaga meski ketegangan AS-China memanas.

Sebelum putusan Mahkamah Agung keluar, dorongan kebijakan tarif Trump sudah membebani hubungan diplomatik Washington di Asia. Dampaknya paling terasa bagi ekonomi yang sangat bergantung pada ekspor dan terikat erat dengan rantai pasok menuju pasar AS.

Nah, putusan Jumat itu sendiri sebenarnya spesifik. Ia hanya menyangkut tarif yang diluncurkan Trump berdasarkan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) undang-undang yang sejatinya untuk kondisi darurat nasional. Tapi efeknya besar. Lembaga pemantau Global Trade Alert memperkirakan, putusan ini memangkas rata-rata tarif AS berbobot perdagangan hampir setengahnya, dari 15,4% jadi 8,3%.

Bagi negara seperti China, Brasil, dan India, pemotongannya bahkan bisa dua digit persentase poin. Meski begitu, level tarifnya tetap saja tinggi.

Di Taiwan, pemerintah menyatakan sedang memantau situasi dengan saksama. Mereka mencatat bahwa pemerintah AS sendiri belum sepenuhnya menentukan cara mengimplementasikan kesepakatan dagang dengan banyak negara.

"Meskipun dampak awal terhadap Taiwan tampak terbatas, pemerintah akan terus memantau perkembangan dan menjaga komunikasi erat dengan AS,"

demikian pernyataan kabinet Taiwan. Negeri itu baru saja menandatangani dua kesepakatan dengan AS, termasuk komitmen investasi senilai USD250 miliar.

Namun begitu, jangan berharap terlalu banyak. Analis menilai putusan Mahkamah Agung ini kemungkinan hanya memberi sedikit kelegaan bagi ekonomi global yang sudah kecapaian. Fakta di lapangan berbicara: dalam pengungkapan korporasi yang dilacak Reuters, perusahaan-perusahaan di kawasan Asia-Pasifik melaporkan tekanan finansial yang nyata. Ada yang harus memindahkan rantai pasok, bahkan ada yang terpaksa menarik bisnis, seiring eskalasi tarif sepanjang 2025 hingga awal tahun ini. Suasana memang masih gamang.

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar