Keputusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan wewenang Donald Trump menetapkan tarif impor global baru saja memicu gelombang kecemasan di Asia. Mitra dagang Amerika Serikat di kawasan ini kini menghadapi ketidakpastian baru. Pasalnya, sebagai respons, Trump malah mengumumkan tarif impor baru sebesar 10 persen, yang rencananya berlaku selama 150 hari mulai 24 Februari.
Trump jelas tak terima. Ia menyebut putusan itu sangat mengecewakan. Bahkan, dengan nada keras, ia menuduh para hakim Mahkamah Agung terpengaruh oleh kepentingan asing. Putusan pengadilan itu sendiri membatalkan sejumlah tarif yang sebelumnya dikenakan pada eksportir utama Asia mulai dari China, Korea Selatan, hingga Jepang dan Taiwan. Padahal, negara-negara itu adalah pemain kunci dalam rantai pasok teknologi global, dengan Taiwan sebagai produsen chip terbesar dunia.
Analis mulai memperingatkan. Mereka khawatir ini bukan akhir cerita. Bisa saja muncul kebijakan tambahan dari Trump nanti, yang justru akan membuat pelaku usaha dan investor semakin bingung.
Reaksi dari berbagai ibukota pun berdatangan, meski dengan tingkat urgensi yang berbeda-beda.
Di Tokyo, juru bicara pemerintah mengatakan Jepang akan mengkaji dengan cermat isi putusan ini. Mereka berjanji akan merespons pemerintahan Trump secara tepat.
Sementara China, yang sedang bersiap menyambut kunjungan Trump akhir Maret, masih diam. Negeri Tirai Bambu itu sedang dalam masa libur panjang, jadi belum ada komentar resmi atau langkah balasan. Namun, di Hong Kong, seorang pejabat senior keuangan tak menyembunyikan pandangannya tentang situasi di AS.
“Ini menunjukkan stabilitas kebijakan Hong Kong dan kepastian yang kami miliki. Ini menunjukkan kepada investor global pentingnya prediktabilitas,”
kata Sekretaris Layanan Keuangan dan Perbendaharaan Hong Kong, Christopher Hui, dalam konferensi pers Sabtu lalu. Menurutnya, tarif baru Trump justru menegaskan keunggulan perdagangan unik wilayahnya.
Memang, status Hong Kong sebagai wilayah pabean terpisah melindunginya dari tarif AS yang langsung menargetkan barang-barang China daratan. Produk buatan Hong Kong biasanya menghadapi tarif lebih rendah, jadi arus perdagangannya relatif masih terjaga meski ketegangan AS-China memanas.
Sebelum putusan Mahkamah Agung keluar, dorongan kebijakan tarif Trump sudah membebani hubungan diplomatik Washington di Asia. Dampaknya paling terasa bagi ekonomi yang sangat bergantung pada ekspor dan terikat erat dengan rantai pasok menuju pasar AS.
Nah, putusan Jumat itu sendiri sebenarnya spesifik. Ia hanya menyangkut tarif yang diluncurkan Trump berdasarkan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) undang-undang yang sejatinya untuk kondisi darurat nasional. Tapi efeknya besar. Lembaga pemantau Global Trade Alert memperkirakan, putusan ini memangkas rata-rata tarif AS berbobot perdagangan hampir setengahnya, dari 15,4% jadi 8,3%.
Bagi negara seperti China, Brasil, dan India, pemotongannya bahkan bisa dua digit persentase poin. Meski begitu, level tarifnya tetap saja tinggi.
Di Taiwan, pemerintah menyatakan sedang memantau situasi dengan saksama. Mereka mencatat bahwa pemerintah AS sendiri belum sepenuhnya menentukan cara mengimplementasikan kesepakatan dagang dengan banyak negara.
"Meskipun dampak awal terhadap Taiwan tampak terbatas, pemerintah akan terus memantau perkembangan dan menjaga komunikasi erat dengan AS,"
demikian pernyataan kabinet Taiwan. Negeri itu baru saja menandatangani dua kesepakatan dengan AS, termasuk komitmen investasi senilai USD250 miliar.
Namun begitu, jangan berharap terlalu banyak. Analis menilai putusan Mahkamah Agung ini kemungkinan hanya memberi sedikit kelegaan bagi ekonomi global yang sudah kecapaian. Fakta di lapangan berbicara: dalam pengungkapan korporasi yang dilacak Reuters, perusahaan-perusahaan di kawasan Asia-Pasifik melaporkan tekanan finansial yang nyata. Ada yang harus memindahkan rantai pasok, bahkan ada yang terpaksa menarik bisnis, seiring eskalasi tarif sepanjang 2025 hingga awal tahun ini. Suasana memang masih gamang.
Artikel Terkait
Prabowo Paparkan Kebijakan Ekonomi ke Investor Global di Washington, Respons Positif Mengalir
Imsak Jakarta 22 Februari 2026 Pukul 04.32 WIB
DPR Soroti Risiko Pelonggaran Sertifikasi Halal dalam Perjanjian Dagang Indonesia-AS
Imsak Kota dan Kabupaten Bogor Pagi Ini Pukul 04.32 WIB