Dari Lita hingga Janice: Jejak Panjang Petenis Indonesia di Melbourne Park

- Rabu, 21 Januari 2026 | 15:35 WIB
Dari Lita hingga Janice: Jejak Panjang Petenis Indonesia di Melbourne Park

Melbourne Park punya cerita sendiri buat para pecinta tenis Indonesia. Sejak puluhan tahun lalu, tepatnya era 60-an, sampai gelaran tahun 2026 ini, selalu saja ada wakil dari Tanah Air yang berlaga di lapangan keras Australian Open. Kiprah mereka, terutama dari atlet putri, sudah seperti bagian dari sejarah turnamen bergengsi itu.

Nah, kalau ditelusuri, ada sembilan nama yang pernah mencatatkan namanya di sana. Mari kita lihat satu per satu.

Janice Tjen adalah wajah baru yang sedang bersinar terang. Di usianya yang ke-23, ia baru saja menjuarai Hobart International 2026. Tak cuma itu, debut Grand Slam keduanya di Australian Open tahun ini langsung diwarnai kemenangan gemilang atas pemain top dunia, Leylah Fernandez, di babak pertama. Sungguh awal yang mengesankan.

Membicarakan pelopor, nama Lita Liem Sugiarto pasti tak boleh terlupa. Dialah pionir sejati. Tampil perdana tahun 1968, Lita langsung terjun di tiga nomor sekaligus: tunggal, ganda, dan campuran. Puncak prestasinya? Tahun 1970, ia berhasil melaju ke babak 16 besar tunggal putri. Di nomor ganda, bersama rekannya, ia bahkan menembus perempat final.

Rekan setia Lita itu adalah Lany Kaligis. Ia memulai kiprah di tahun yang sama, 1968. Yang membuatnya legendaris, Lany pernah merasakan persaingan di semua turnamen Grand Slam. Kontribusinya menjadi fondasi yang kokoh bagi sejarah tenis nasional.

Lompat ke tahun 1994, sorotan tertuju pada Romana Tedjakusuma. Petenis asal Surabaya ini tampil menawan di nomor tunggal. Ia berhasil melaju sampai putaran ketiga sebelum akhirnya terhenti. Tak cuma di Melbourne, di tahun yang sama Romana juga menunjukkan taringnya di French Open dan US Open.

Kalau soal yang tersukses, jawabannya cuma satu: Yayuk Basuki. Namanya sudah melegenda. Peringkat dunia tertingginya pernah mencapai posisi 19 untuk tunggal dan 9 untuk ganda. Di Australian Open 1998, Yayuk berhasil mencapai babak keempat, sebelum akhirnya takluk dari legenda Martina Hingis. Prestasi yang sampai sekarang sulit ditandingi.

Memasuki era 2000-an, Wynne Prakusya menjadi andalan. Petenis kelahiran Surakarta ini punya catatan manis di Melbourne, yakni saat ia melangkah ke perempat final ganda campuran tahun 2003 bersama David Adams.

Ada juga Angelique Widjaja yang akrab disapa Angie. Ia menjalani debutnya di usia 18 tahun pada 2003. Meski sempat kesulitan di tunggal, Angie membuktikan diri di ganda putri dengan menembus perempat final pada edisi 2004.

Di lapangan saat ini, Aldila Sutjiadi adalah tumpuan. Spesialis ganda yang disegani ini pernah mencapai babak ketiga pada 2023. Di edisi 2026 ini, ia kembali berjuang, kali ini berpasangan dengan petenis Meksiko, Giuliana Olmos.

Lalu bagaimana dengan petenis putra? Christopher Rungkat atau yang akrab disapa Christo, berhasil menjaga eksistensi itu. Spesialis ganda ini tercatat pernah berkompetisi di Australian Open, mengibarkan bendera Indonesia di level tertinggi.

Dari masa ke masa, mereka semua sudah menorehkan tinta. Sekarang, tinggal menunggu siapa lagi yang akan menyusul dan menambah daftar panjang prestasi itu.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar