Dari sisi penerimaan negara, Menteri Keuangan Scott Bessent meyakinkan bahwa dampak fiskal dari perubahan kebijakan ini akan minimal. Ia menjelaskan bahwa kombinasi tarif global 10 persen ini dengan potensi tarif tambahan melalui pasal perdagangan lainnya diperkirakan akan menjaga tingkat penerimaan tarif tahun 2026 relatif stabil.
“Kita akan kembali ke tingkat tarif yang sama untuk negara-negara tersebut, hanya dengan cara yang sedikit lebih tidak langsung,” jelas Bessent dalam keterangannya.
Masa Transisi dan Investigasi Lanjutan
Periode 150 hari ini, menurut Presiden Trump, akan dimanfaatkan sebagai masa transisi untuk menyelesaikan penyelidikan perdagangan yang sedang berlangsung. Masa ini juga akan membuka ruang bagi penyesuaian tarif yang lebih ditargetkan ke depannya. Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) disebutkan telah membuka investigasi terhadap praktik perdagangan China dan Brasil, dengan potensi perluasan ke mitra dagang besar lainnya seperti Vietnam dan Kanada.
Ketika ditanya tentang kemungkinan kenaikan tarif lebih lanjut, Trump memberikan sinyal yang terbuka. “Berpotensi lebih tinggi. Tergantung. Sesuai yang kita inginkan,” ujarnya.
Langkah ini menandai babak baru dalam kebijakan perdagangan AS yang agresif, di mana pemerintah beralih dari pendekatan darurat ke pasal hukum yang lebih spesifik, meski tetap kontroversial. Periode 150 hari ke depan akan menjadi krusial untuk mengukur dampak riil kebijakan ini dan arah investigasi perdagangan yang akan menyusul.
Artikel Terkait
Pemerintah Tegaskan Pemotongan Gaji Pejabat Masih Wacana, Belum Diputuskan
Bank Indonesia Siap Setor Sisa Surplus Rp40 Triliun ke Pemerintah
Said Didu Klarifikasi Polemik EO Sarang Korupsi: Targetnya Oknum Pejabat, Bukan Pelaku Profesional
SKK Migas Targetkan Dua Pabrik LPG Baru Beroperasi April Ini