Di sisi lain, beban operasional mereka justru naik 6,3% menjadi Rp10,1 triliun. Pemicu utamanya adalah kenaikan gaji dan tunjangan karyawan sebesar 15%, yang akhirnya menyentuh Rp3,3 triliun. Berbeda dengan itu, pos Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) relatif stabil, bahkan cenderung turun, di kisaran Rp1,9 triliun.
Arus kas operasional perusahaan multifinance ini justru membaik. Ia melonjak 64% menjadi Rp453 miliar. Perbaikan ini terutama didorong oleh transaksi pembiayaan yang naik 5% ke level Rp54,2 triliun.
Tapi jangan senang dulu. Likuiditasnya justru menipis. Posisi kas dan setara kas anjlok 58%, dari Rp1,96 triliun menjadi hanya Rp822 miliar.
Penurunan kas yang tajam ini tak lepas dari beberapa faktor. Perusahaan melakukan pembayaran pinjaman bank sebesar Rp13,4 triliun dan membayar pokok utang obligasi Rp2,7 triliun. Belum lagi, ada pembagian dividen tunai ke pemegang saham senilai Rp982 miliar yang juga dibayarkan tahun lalu.
Meski kas menipis, aset Adira secara keseluruhan masih bertahan di sekitar Rp38 triliun. Kunci utamanya adalah kenaikan piutang pembiayaan sebesar 8% menjadi Rp25,7 triliun. Liabilitasnya stabil di Rp23 triliun, sementara ekuitas tercatat sebesar Rp15 triliun.
Artikel Terkait
Pemerintah Pastikan Harga BBM Bersubsidi Tak Naik hingga Akhir 2026
Trump Akui Ketangguhan Iran Usai F-15E AS Dijatuhkan
Antonio Conte Buka Peluang Kembali Tangani Timnas Italia
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Disertai Kilat dan Angin Kencang di Jabodetabek Siang-Sore Ini