Kalau bicara daya saing industri Indonesia di mata dunia, isu lingkungan kini bukan sekadar pelengkap. Ia sudah jadi ukuran utama. Di tengah desakan global menuju ekonomi rendah karbon, akselerasi pengembangan kawasan industri hijau tampaknya memang sebuah keniscayaan. Bahkan, ini menjadi langkah krusial untuk mendukung target ambisius Net Zero Emissions Indonesia di tahun 2060.
Jefferson Kuesar, CEO SUN Energy, menegaskan hal itu. Baginya, pendekatan energi berkelanjutan haruslah holistik dan terintegrasi. Bukan setengah-setengah.
“Akselerasi green industrial park bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan untuk menjaga daya saing kawasan industri Indonesia di pasar global,” tegas Jefferson dalam keterangan resminya, Kamis (19/2/2026).
Ia menjelaskan lebih lanjut, perusahaannya tak cuma memasang panel surya. Mereka membangun fondasi energi terbarukan yang diharapkan lebih stabil dan efisien bagi para penyewa dan pengelola kawasan industri.
“Melalui pendekatan Energy-as-a-Solution, kami tidak hanya menghadirkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), tetapi membangun fondasi energi terbarukan yang lebih stabil, efisien, dan rendah emisi bagi tenant dan pengelola kawasan industri. Inilah kontribusi kami dalam mempercepat transisi energi dan mendorong implementasi kawasan industri hijau di Indonesia," katanya.
Memang, kawasan industri adalah pusat konsumsi energi raksasa. Perannya dalam menekan emisi operasional sangatlah strategis. Menurut Jefferson, pengembangan PLTS di area ini adalah fondasi awal untuk membangun ekosistem industri yang benar-benar hijau. Ini soal keberlanjutan bisnis untuk jangka panjang.
Faktanya, tren ini mulai terlihat. Laporan dari Center for Global Sustainability menyebut setidaknya 21 kawasan industri di tanah air sudah memakai atau berencana memanfaatkan PLTS. Salah satu contoh nyatanya ada di Kawasan Industri Jababeka.
Di sana, SUN Energy mengembangkan PLTS berkapasitas total 1,8 megawatt. Yang menarik, penggunanya beragam sekali: mulai dari industri material bangunan, komponen otomotif, farmasi, sampai laboratorium dan kemasan. Model semacam ini berpotensi jadi proyek percontohan yang bisa direplikasi di tempat lain.
Namun begitu, kerja keras menuju industri hijau tak berhenti di panel surya. Ada elemen lain yang tak kalah penting: elektrifikasi transportasi. Logistik dan operasional harian di dalam kawasan industri juga harus mulai beralih ke kendaraan listrik jika ingin dekarbonisasi betul-betul maksimal.
Pandangan ini diamini oleh Karina, CEO SUN Mobility. Ia menyoroti perlunya solusi ekosistem kendaraan listrik yang komprehensif.
“Selain mengembangkan sistem energi surya, kami memandang elektrifikasi transportasi logistik dan operasional turut menjadi elemen penting dalam upaya dekarbonisasi kawasan industri," ujar Karina.
“Melalui solusi EV ecosystem yang kami kembangkan, kami melengkapi strategi Energy-as-a-Solution dari SUN. Tujuan kami adalah membantu tenant industri beralih ke operasional yang lebih efisien, lebih bersih, dan selaras dengan target Net Zero," jelasnya.
Jadi, jalan menuju industri hijau memang berlapis. Butuh kombinasi antara energi bersih dari matahari dan transformasi mobilitas di darat. Semuanya saling mengisi. Dan semua itu, pada akhirnya, bermuara pada satu tujuan: menjaga agar industri Indonesia tetap relevan dan kompetitif di panggung global yang semakin ketat persyaratan lingkungannya.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Tegaskan Penertiban Tambang Ilegal dan Sita 4 Juta Hektare Lahan
KKP Prediksi Produksi Perikanan Tangkap Turun pada Awal 2026 Akibat Cuaca
Prabowo dan Trump Tandatangani Perjanjian Dagang AS-Indonesia di Washington
Ekspor Otomotif Korea Selatan Melonjak 21% di Awal 2026, Didorong Mobil Ramah Lingkungan