Di sana, SUN Energy mengembangkan PLTS berkapasitas total 1,8 megawatt. Yang menarik, penggunanya beragam sekali: mulai dari industri material bangunan, komponen otomotif, farmasi, sampai laboratorium dan kemasan. Model semacam ini berpotensi jadi proyek percontohan yang bisa direplikasi di tempat lain.
Namun begitu, kerja keras menuju industri hijau tak berhenti di panel surya. Ada elemen lain yang tak kalah penting: elektrifikasi transportasi. Logistik dan operasional harian di dalam kawasan industri juga harus mulai beralih ke kendaraan listrik jika ingin dekarbonisasi betul-betul maksimal.
Pandangan ini diamini oleh Karina, CEO SUN Mobility. Ia menyoroti perlunya solusi ekosistem kendaraan listrik yang komprehensif.
“Selain mengembangkan sistem energi surya, kami memandang elektrifikasi transportasi logistik dan operasional turut menjadi elemen penting dalam upaya dekarbonisasi kawasan industri," ujar Karina.
“Melalui solusi EV ecosystem yang kami kembangkan, kami melengkapi strategi Energy-as-a-Solution dari SUN. Tujuan kami adalah membantu tenant industri beralih ke operasional yang lebih efisien, lebih bersih, dan selaras dengan target Net Zero," jelasnya.
Jadi, jalan menuju industri hijau memang berlapis. Butuh kombinasi antara energi bersih dari matahari dan transformasi mobilitas di darat. Semuanya saling mengisi. Dan semua itu, pada akhirnya, bermuara pada satu tujuan: menjaga agar industri Indonesia tetap relevan dan kompetitif di panggung global yang semakin ketat persyaratan lingkungannya.
Artikel Terkait
Harga Solar di Kamboja Melonjak 110% Akibat Konflik Timur Tengah
Pemerintah Saudi Perketat Pengawasan, Indonesia Ingatkan Waspada Modus Haji Ilegal
Kemenhaj dan KJRI Jeddah Ingatkan WNI Waspada Modus Haji Ilegal
Danantara Akuisisi Mandiri Investasi Rp1,02 Triliun untuk Kuatkan Ekosistem BUMN