Pada sektor pasar modal, pemerintah terus mendorong agenda reformasi untuk meningkatkan integritas dan daya tarik investasi. Beberapa hal yang menjadi perhatian mencakup justifikasi aturan free float, ketentuan mengenai pemilik manfaat akhir korporasi, serta percepatan proses demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Reformasi ini dinilai penting untuk menciptakan ekosistem pasar modal yang lebih transparan, likuid, dan kompetitif.
Di sisi eksternal, pemerintah aktif menjajaki peluang melalui kerja sama perdagangan internasional. Menurut Airlangga, hubungan dengan negara-negara kawasan Eropa menunjukkan prospek yang menjanjikan. Hal ini turut didukung oleh figur Kepala Negara yang dihormati di kalangan global.
“Sehingga berbagai perjanjian internasional mulai dengan EU, Kanada, kemudian dengan Eurasia, kemudian juga pra-CEPA dengan Inggris, dan yang terakhir tentu perundingan dengan AS yang sudah selesai perundingannya tinggal penandatanganan,” ungkapnya.
Dengan kombinasi strategi fiskal yang prudent, reformasi struktural di sektor keuangan, dan ekspansi kerja sama ekonomi global, pemerintah berupaya membangun fondasi yang kokoh untuk pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di tengah dinamika pasar dunia yang terus berubah.
Artikel Terkait
Dua Bocah Berblangkon Deg-degan Saat Serahkan Bunga untuk Presiden Prabowo di Seoul
Rosan Roeslani: Efisiensi Energi BUMN Tak Ganggu Layanan, Justru Pacu Investasi EBT
LPS Mulai Verifikasi Nasabah BPR Pembangunan Nagari Usai Pencabutan Izin OJK
KPK Perpanjang Penahanan Mantan Menag Yaqut 40 Hari