Oleh: Kuro Sumargo Pengamat Komunikasi Pertanian – Jakarta
Indonesia itu raksasa sawit. Tidak main-main, produksinya bisa nyaris 60 juta ton per tahun, menguasai lebih dari separuh pasar global. Angka ekspornya pun fantastis, kerap menembus ratusan triliun rupiah. Tapi, di balik semua gemerlap angka itu, ada satu masalah klasik yang terus menggerogoti: kita belum benar-benar berdaulat soal harga.
Harga minyak sawit mentah atau CPO dunia, sampai detik ini, masih ditentukan di bursa Malaysia atau di pelabuhan Rotterdam. Miris, kan? Komoditas yang kita tanam, kita panen, dan kita olah sebagian besar, justru harganya dipatok oleh pihak lain di seberang lautan. Intinya, kita yang kerja keras, tapi keuntungan besarnya belum sepenuhnya kita raih.
Padahal potensinya sungguh luar biasa. Menurut sejumlah analisis, dengan hilirisasi yang serius, nilai ekonomi sawit bisa melonjak berkali-kali lipat. Dari yang sekarang sekitar Rp400-500 triliun, bisa meroket hingga Rp4.500 triliun. Bayangkan angka itu.
Namun begitu, realitanya masih pahit. Ekspor kita didominasi bentuk mentah atau setengah jadi. Nilai tambah tertinggi dari biodiesel, oleokimia, sampai produk pangan olahan justru dinikmati negara lain. Akibatnya, kita terjebak dalam paradoks yang aneh: mengekspor bahan baku energi, tapi masih harus mengimpor energi jadi seperti solar.
Data berbicara jelas. Indonesia masih mengimpor solar sekitar 5,3 juta kiloliter. Sementara di waktu yang sama, kita mengirimkan keluar CPO sekitar 26 juta ton. Ini bukan sekadar ironi, ini bukti nyata kita belum menguasai rantai nilainya sendiri.
Di sisi lain, dunia sudah memberi contoh. Gangguan kecil di Selat Hormuz yang cuma mencakup 20% pasokan minyak global langsung bisa menggoyang harga dan mengacaukan ekonomi internasional. Sekarang coba pikirkan posisi kita. Dengan kuasa atas 60% pasokan sawit dunia, seharusnya pengaruh kita jauh lebih dahsyat.
Artikel Terkait
Pemerintah Terapkan WFH Sehari Seminggu bagi ASN, Berlaku Setiap Jumat
Nelayan di Pacitan Tewas Diduga Terseret Ombak Saat Melaut
Ragnar dan Verdonk Pulang Bareng ke Eropa, Bawa Misi Berbeda ke Klub Masing-masing
Malaysia dan Filipina Gagal Lolos, Empat Wakil ASEAN Siap Berlaga di Piala Asia 2027