Bima Arya Soroti Kunci Pembinaan Olahraga: Infrastruktur dan Kreativitas

- Minggu, 07 Desember 2025 | 10:45 WIB
Bima Arya Soroti Kunci Pembinaan Olahraga: Infrastruktur dan Kreativitas

Di tengah riuh Indonesia Sport Summit 2025 di Indonesia Arena, Sabtu lalu, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menyampaikan pesan yang cukup gamblang. Intinya, pembinaan olahraga di tanah air butuh lebih dari sekadar semangat. Ia menegaskan, semua harus berjalan terstruktur dan sistematis. Tapi, ada satu syarat mutlak yang tak boleh diabaikan: infrastruktur yang memadai.

"Pembinaan ini syarat utamanya adalah infrastruktur," tegas Bima dalam keterangan terpisah pada Minggu (7/12).

"Tanpa pembinaan, tanpa infrastruktur, enggak mungkin. Mau pembinaan seperti apa?"

Nah, persoalannya, membangun fasilitas olahraga baru seringkali terkendala anggaran. Di sinilah Bima punya pandangan lain. Menurutnya, potensi besar justru sering teronggok tak terurus. Ia lantas mencontohkan apa yang dilakukan Surabaya di era Tri Rismaharini. Kota itu dikenal jeli memetakan dan mengelola aset daerah yang terbengkalai.

Mulai dari sepetak lahan kelurahan yang tak terawat, hingga bekas SPBU yang sudah tak sesuai rencana tata ruang. Semua ditertibkan, lalu diolah kembali agar bisa memberi manfaat nyata buat warga. Praktik seperti inilah, kata Bima, yang perlu ditularkan ke daerah lain. Soalnya, kebutuhan akan ruang publik dan sarana olahraga terus berkembang pesat.

"Jadi bukan hanya gedung existing, tapi lahan-lahannya yang prospektif itu bisa digarap," ujarnya.

Di sisi lain, upaya optimalisasi aset ini mendapat angin segar dari sebuah nota kesepahaman. Awal Desember lalu, Kemendagri, Kemenpora, dan Kementerian UMKM resmi berkolaborasi. Bima melihat MoU ini sebagai momentum tepat untuk memperkuat sinergi. Tujuannya jelas: mengelola sarana olahraga secara lebih profesional.

Dengan pendekatan kolaboratif, fasilitas olahraga yang selama ini sepi dan kurang produktif bisa dihidupkan kembali. Tak cuma jadi ruang publik, tapi juga pusat aktivitas ekonomi warga sekitar.

Lalu, bagaimana dengan soal dana? Bima punya jawaban yang cukup realistis. Pembangunan sarana olahraga, katanya, tak harus selalu bergantung penuh pada APBD. Ia mendorong pemerintah daerah untuk lebih kreatif menjajaki kemitraan.

"Kalau anggaran Pemda terbatas, bisa bermitra. Bisa model KPBU misalnya ya, bekerja sama dalam berbagai caranya," ungkap Bima.

Sebagai gambaran, ia bercerita tentang kunjungannya ke Mandalika. Di sana, Pemda setempat bekerja sama dengan pengelola kawasan untuk mengaktivasi aset melalui acara lari "Korpri Fun Night Run". Kolaborasi sederhana itu ternyata membawa dampak yang tidak kecil.

Menutup pembicaraannya, Bima berharap langkah-langkah semacam ini bisa memicu kolaborasi yang lebih luas. "Jadi ini akan memicu kolaborasi antara semua stakeholders olahraga," pungkasnya.

Jika semua pihak bergerak bersama, impian memiliki ekosistem olahraga yang sehat dan berkelanjutan, mungkin bukan lagi sekadar wacana.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar