Mahasiswa STIK Bangun 12 Sumur Bor untuk Korban Bencana Aceh Jelang Ramadan

- Jumat, 13 Februari 2026 | 01:00 WIB
Mahasiswa STIK Bangun 12 Sumur Bor untuk Korban Bencana Aceh Jelang Ramadan

MURIANETWORK.COM - Sebanyak 12 sumur bor dibangun oleh mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) di wilayah terdampak bencana di Aceh. Pembangunan infrastruktur air bersih ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat yang bertujuan membantu warga memenuhi kebutuhan pokok menjelang bulan Ramadan sekaligus menjadi media pembelajaran bagi calon perwira Polri.

Lebih dari Sekadar Bantuan Teknis

Kegiatan yang melibatkan Mahasiswa STIK Lemdiklat Polri Angkatan 83/WPS ini dirancang sebagai langkah nyata menjawab persoalan mendesak di lapangan. Di balik angka 12 titik sumur bor tersebut, terselip misi yang lebih mendalam: membentuk karakter dan kepekaan sosial para taruna. Bagi institusi pendidikan tinggi kepolisian, pengalaman langsung berinteraksi dan menyelesaikan masalah komunitas dianggap sebagai bagian kurikulum yang tak kalah penting dari pelajaran di dalam kelas.

Irjen Pol Eko Rudi Sudarto, Ketua STIK Lemdiklat Polri, menegaskan hal ini. Ia menyatakan bahwa program tersebut bukan aktivitas seremonial belaka.

“Pengabdian masyarakat tahun ini, Mahasiswa S1 STIK Angkatan 83/WPS diberangkatkan ke Aceh untuk dua tujuan penting. Pertama, menjalankan misi kemanusiaan di wilayah bencana. Kedua, sebagai ruang pembentukan watak dan kepekaan sosial bagi para calon pemimpin Polri,” jelasnya pada Kamis (12/2/2026).

Membangun Kepemimpinan dari Pengalaman Lapangan

Pemilihan lokasi di Aceh, wilayah yang memiliki catatan panjang terkait bencana dan pemulihannya, bukan tanpa alasan. Daerah ini dianggap sebagai ruang belajar yang kontekstual, di mana para calon pemimpin Polri dapat menyaksikan dan merasakan secara langsung tantangan yang dihadapi masyarakat. Interaksi semacam ini diharapkan dapat menanamkan empati dan pemahaman praktis yang akan berguna di masa tugas mereka nanti.

Eko Rudi Sudarto lebih lanjut menguraikan filosofi di balik pendekatan ini. Menurutnya, kepemimpinan yang efektif lahir dari gabungan kompetensi teknis dan kedekatan emosional dengan warga.

“Program ini sekaligus menegaskan pendekatan humanis yang terus digaungkan dalam transformasi Polri. Para mahasiswa STIK yang kelak akan menduduki posisi strategis di kepolisian diharapkan memiliki empati sosial yang kuat dan memahami secara langsung persoalan masyarakat di lapangan,” ungkapnya.

Dampak Berkelanjutan di Tengah Masyarakat

Dari sisi teknis, pembangunan sumur bor difokuskan pada keberlanjutan. Infrastruktur yang dibangun diharapkan tidak hanya menjadi solusi sesaat, tetapi dapat terus dimanfaatkan oleh warga setempat dalam jangka panjang. Kehadiran air bersih, terutama di momentum menjelang Ramadan, membawa dampak signifikan bagi kehidupan sehari-hari, mulai dari pemenuhan kebutuhan ibadah, sanitasi, hingga konsumsi.

Di tanah yang pernah dilanda ujian berat, aliran air dari sumur-sumur baru itu punya makna lebih dari sekadar cairan. Ia menjadi simbol harapan dan perwujudan nyata kehadiran negara, yang diwujudkan oleh para calon penjaga keamanan dan ketertiban. Langkah sederhana ini mencerminkan sebuah transformasi, di mana bakti kepada masyarakat menjadi fondasi awal dalam membangun masa depan kepolisian yang lebih dekat dengan rakyat.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar