Angka itu masih terasa kecil. Di Kota Surakarta, yang dikenal sebagai pusat ekonomi dan budaya di Jawa Tengah, penerima pembiayaan Ultra Mikro (UMi) baru menyentuh 25 ribu debitur. Padahal, program yang disalurkan lewat Lembaga Keuangan Bukan Bank ini dirancang khusus untuk para pelaku usaha mikro yang belum tersentuh perbankan.
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara tak menyembunyikan kekecewaannya. Menurutnya, untuk kota sekaliber Solo, capaian itu belum optimal. “Saya tadi waktu dengar angka 25 ribu penerima UMi atau debitur, saya rasa untuk kaliber kota Solo harusnya bisa lebih besar,” ujarnya.
“Terlalu kecil menurut saya 25 ribu itu untuk kaliber kota sebesar Surakarta.”
Pernyataan itu disampaikannya langsung di hadapan Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani, dalam sebuah kunjungan kerja Kamis lalu. Suahasil mendorong agar Pemkot Solo lebih aktif berkoordinasi dengan lembaga penyalur, termasuk Pusat Investasi Pemerintah (PIP) di bawah Kemenkeu. Pemetaan pelaku usaha mikro oleh dinas terkait di daerah dinilainya akan membuat penyaluran dana jadi lebih tepat sasaran.
Di sisi lain, ada kabar baik soal skema ini: bunganya memang sengaja dibuat ringan. PIP menyalurkan dana ke perusahaan penyalur dengan margin sangat rendah, hanya antara 2 sampai 4 persen. “Jadi bunganya murah karena memang tujuannya adalah untuk membantu masyarakat, bukan bunga komersial,” jelas Suahasil.
Artikel Terkait
Pembangunan Rusun di Bantaran Rel Senen Ditargetkan Mulai Mei 2026
Maarten Paes Raih Kiper Terbaik PSSI Awards 2026, Tekankan Pentingnya Kerja Kolektif
Dua Personel UNIFIL Tewas dalam Ledakan di Lebanon Selatan
KPK Tetapkan Dua Pengusaha Haji sebagai Tersangka Baru Kasus Korupsi Kuota