Upaya penanganan tidak hanya terpusat di jalan tol. Di Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, tim di lapangan mengerahkan dua unit pompa mobile untuk mengeringkan genangan di area Pondok Pesantren Sabulussalam, memastikan kegiatan belajar mengajar para santri tidak terus terganggu. Sementara itu, untuk menangani longsor sepanjang 200 meter di Desa Carenang yang merusak delapan rumah, BBWS C3 melakukan perkuatan tebing sungai menggunakan bronjong. Anyaman kawat berisi batu ini dipasang untuk menstabilkan tanah dan mencegah erosi lebih lanjut.
Kesiapan Logistik dan Rencana Jangka Panjang
Kesiapan peralatan dan material menjadi kunci respons yang cepat. Kepala BBWS Cidanau–Ciujung–Cidurian, Dedi Yudha Lesmana, memastikan kesiapan seluruh sumber daya kebencanaan.
“Peralatan dan material kebencanaan milik BBWS C3 sudah siap digunakan. Namun, kami tetap memperhatikan kondisi lapangan, terutama akses menuju lokasi, sebelum menentukan metode penanganan yang paling tepat,” jelasnya.
Di atas meja perencanaan, solusi yang lebih komprehensif telah disiapkan. Desain penanganan jangka panjang untuk Sungai Cidurian mencakup pembangunan tanggul permanen yang diperkuat dengan parapet atau dinding penahan, serta pembangunan pintu air. Pelaksanaan rencana ini dilakukan dengan berkoordinasi intensif bersama Pemerintah Kabupaten Tangerang dan berbagai pemangku kepentingan, guna memastikan efektivitas dan keberlanjutan pemulihan wilayah.
Artikel Terkait
KPK: 94 Ribu Pejabat Belum Lapor LHKPN, Batas Akhir 31 Maret 2026
Upaya Pencurian Motor Gagal di Kos Makassar Berkat Kehadiran Pemilik
Harga Bawang dan Beras Naik, Cabai Merah Turun Drastis di Pasar Tradisional
Amran Sulaiman Ungkap Doa di Istiqlal dan Proyek Masjid 20 Ribu Jemaah di Makassar