Sisi impor pada 2025 justru memberikan gambaran tentang dinamika industri dalam negeri. Struktur impor masih didominasi bahan baku dan penolong (70%), diikuti barang modal (20,73%) dan barang konsumsi (9,27%). Yang menarik, impor barang modal meningkat signifikan 20,06%, sementara impor barang konsumsi justru turun.
Pola ini, menurut analisis, mengindikasikan adanya peningkatan investasi dan ekspansi kapasitas produksi. “Komposisi ini mencerminkan aktivitas industri dalam negeri yang masih kuat karena impor lebih banyak digunakan sebagai input produksi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan kinerja ekspor,” jelas Mendag.
Bekal Strategis Menghadapi Tahun 2026
Untuk mempertahankan momentum dan menghadapi tantangan 2026, pemerintah tidak hanya mengandalkan kondisi pasar. Sepanjang 2025, upaya diplomasi dan penguatan kerangka hukum perdagangan internasional digenjot. Perluasan akses pasar dilakukan melalui penyelesaian sejumlah perjanjian dagang strategis, seperti dengan Peru, Kanada, dan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU). Hingga akhir 2025, Indonesia telah memiliki 20 perjanjian dagang yang aktif diimplementasikan.
“Kami terus mendorong pemanfaatan berbagai perjanjian dagang yang telah disepakati agar dapat dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku usaha,” tutur Budi Santoso.
Di sisi lain, pengamanan pasar domestik dan kepentingan ekspor juga diperkuat. Indonesia tercatat memenangkan sejumlah sengketa dagang di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), termasuk kasus melawan Uni Eropa terkait biodiesel dan produk sawit, yang mengamankan akses pasar bernilai setara Rp7,34 triliun. Instrumen pengamanan perdagangan (trade remedies) seperti Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) juga diterapkan untuk melindungi industri dalam negeri dari praktik tidak sehat.
Di tingkat operasional, promosi ekspor tetap dijalankan dengan memaksimalkan peran perwakilan dagang di luar negeri. Sementara itu, instrumen dalam negeri seperti Sistem Resi Gudang (SRG) terus dikembangkan, dengan nilai penerbitan resi gudang pada 2025 mencapai lebih dari Rp1,9 triliun untuk 27 komoditas, sebagian besar pangan.
Serangkaian langkah tersebut, ditopang oleh data kinerja yang cukup tangguh di tahun 2025, diharapkan dapat menjadi fondasi yang kokoh bagi Indonesia untuk navigasi di arus perdagangan global tahun 2026 yang diprediksi tetap bergejolak.
Artikel Terkait
Pelatih Saint Kitts and Nevis Anggap Peringkat FIFA Hanya Angka Jelang Hadapi Indonesia
Arus Balik Lebaran di Terminal Kampung Rambutan Masih Ramai, 2.257 Penumpang Telah Tiba
Arus Balik Lebaran, Ruas Tol Semarang Kembali Diberlakukan One Way Lokal
Korban Tewas Kecelakaan Mudik Lebaran 2026 Turun 30 Persen