Surplus Dagang Indonesia 2025 Tembus USD41 Miliar, Tumbuh 31% di Tengah Tekanan Global

- Senin, 09 Februari 2026 | 05:35 WIB
Surplus Dagang Indonesia 2025 Tembus USD41 Miliar, Tumbuh 31% di Tengah Tekanan Global

MURIANETWORK.COM - Kinerja perdagangan Indonesia mencatatkan hasil yang solid di tengah ketidakpastian global. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan, surplus neraca perdagangan pada 2025 mencapai USD41,05 miliar, tumbuh signifikan 31,03% dari tahun sebelumnya. Capaian ini, yang merupakan surplus bulanan ke-68 berturut-turut, diraih di tengah tantangan proteksionisme dan penurunan harga komoditas, sekaligus menjadi modal optimisme menghadapi dinamika perdagangan dunia di tahun 2026.

Surplus yang Tumbuh di Tengah Tekanan Global

Angka surplus USD41,05 miliar untuk tahun 2025 bukanlah pencapaian yang mudah. Nilai ini muncul dari konteks ekonomi global yang diwarnai oleh kebijakan proteksionisme di berbagai negara dan tren pelemahan harga sejumlah komoditas andalan ekspor. Namun, fakta bahwa surplus justru meningkat lebih dari 30% dari posisi 2024 yang sebesar USD31,33 miliar menunjukkan ketahanan yang patut dicermati. Bahkan pada Desember 2025 saja, Indonesia masih mencatatkan surplus bulanan sebesar USD2,51 miliar.

Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam keterangan tertulisnya menyoroti optimisme dari capaian ini. "Neraca perdagangan kita pada 2025 mencatatkan surplus USD41,05 miliar, meningkat hingga 31,03 persen. Tentu banyak tantangan global saat ini yang kita hadapi, tapi kita tetap optimistis bahwa kinerja perdagangan kita akan tumbuh dengan baik. Mudah-mudahan, dalam kondisi apa pun di pasar global, kita dapat terus meningkatkan ekspor," ujarnya.

Ekspor Tumbuh, Struktur Mulai Beragam

Di balik angka surplus, nilai ekspor Indonesia secara keseluruhan (migas dan nonmigas) tumbuh 6,15% menjadi USD282,91 miliar. Yang lebih menggembirakan, ekspor nonmigas menunjukkan performa lebih kuat dengan pertumbuhan 7,66% menjadi USD269,84 miliar. Pertumbuhan ekspor nonmigas tertinggi tercatat dengan negara-negara seperti Swiss, Singapura, dan Uni Emirat Arab, serta kawasan seperti Asia Tengah dan Afrika Barat, mengindikasikan upaya diversifikasi pasar yang mulai membuahkan hasil.

“Capaian ekspor 2025 meningkat 6,15 persen dibanding tahun sebelumnya. Artinya, dengan tantangan global yang ada dan harga komoditas yang turun, kita tetap tumbuh,” tegas Budi Santoso.

Dari sisi struktur, sektor industri manufaktur masih menjadi tulang punggung dengan kontribusi 80,27%. Namun, sinyal positif datang dari sektor pertanian yang mencatatkan peningkatan tertinggi sebesar 21,01%, diikuti industri pengolahan yang tumbuh 14,47%. Pergeseran ini, meski masih kecil, menunjukkan upaya peningkatan nilai tambah.

Komposisi Impor yang Menunjukkan Aktivitas Produksi

Sisi impor pada 2025 justru memberikan gambaran tentang dinamika industri dalam negeri. Struktur impor masih didominasi bahan baku dan penolong (70%), diikuti barang modal (20,73%) dan barang konsumsi (9,27%). Yang menarik, impor barang modal meningkat signifikan 20,06%, sementara impor barang konsumsi justru turun.

Pola ini, menurut analisis, mengindikasikan adanya peningkatan investasi dan ekspansi kapasitas produksi. “Komposisi ini mencerminkan aktivitas industri dalam negeri yang masih kuat karena impor lebih banyak digunakan sebagai input produksi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan kinerja ekspor,” jelas Mendag.

Bekal Strategis Menghadapi Tahun 2026

Untuk mempertahankan momentum dan menghadapi tantangan 2026, pemerintah tidak hanya mengandalkan kondisi pasar. Sepanjang 2025, upaya diplomasi dan penguatan kerangka hukum perdagangan internasional digenjot. Perluasan akses pasar dilakukan melalui penyelesaian sejumlah perjanjian dagang strategis, seperti dengan Peru, Kanada, dan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU). Hingga akhir 2025, Indonesia telah memiliki 20 perjanjian dagang yang aktif diimplementasikan.

“Kami terus mendorong pemanfaatan berbagai perjanjian dagang yang telah disepakati agar dapat dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku usaha,” tutur Budi Santoso.

Di sisi lain, pengamanan pasar domestik dan kepentingan ekspor juga diperkuat. Indonesia tercatat memenangkan sejumlah sengketa dagang di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), termasuk kasus melawan Uni Eropa terkait biodiesel dan produk sawit, yang mengamankan akses pasar bernilai setara Rp7,34 triliun. Instrumen pengamanan perdagangan (trade remedies) seperti Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) juga diterapkan untuk melindungi industri dalam negeri dari praktik tidak sehat.

Di tingkat operasional, promosi ekspor tetap dijalankan dengan memaksimalkan peran perwakilan dagang di luar negeri. Sementara itu, instrumen dalam negeri seperti Sistem Resi Gudang (SRG) terus dikembangkan, dengan nilai penerbitan resi gudang pada 2025 mencapai lebih dari Rp1,9 triliun untuk 27 komoditas, sebagian besar pangan.

Serangkaian langkah tersebut, ditopang oleh data kinerja yang cukup tangguh di tahun 2025, diharapkan dapat menjadi fondasi yang kokoh bagi Indonesia untuk navigasi di arus perdagangan global tahun 2026 yang diprediksi tetap bergejolak.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar