MURIANETWORK.COM - Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya mencuri perhatian dunia sebagai salah satu destinasi terbaik di Asia versi Time Out Asia, tetapi juga menyimpan kekayaan budaya yang mendalam melalui tenun ikatnya. Kain tradisional ini, yang dibuat dengan teknik rumit dan pewarna alami, kini menjadi fokus program pemberdayaan untuk melestarikan warisan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi para perajin perempuan lokal.
Lebih dari Sekadar Kain: Makna di Balik Tenun Sumba
Tenun Sumba bukan sekadar produk tekstil biasa. Setiap helainya adalah cerita yang ditenun dengan tangan, memakai warna-warna bumi dari indigofera untuk biru yang dalam atau akar mengkudu untuk merah yang hangat. Motif-motifnya, sering kali terinspirasi oleh kuda, rusa, dan kepercayaan setempat, menjadi penanda identitas dan nilai budaya yang diwariskan turun-temurun. Kain ini memiliki fungsi adat yang kuat, namun dalam perkembangannya juga mulai dilihat sebagai potensi ekonomi yang menjanjikan.
Dedikasi Seumur Hidup dari Seorang Penenun
Semangat menjaga tradisi ini hidup terwujud dalam sosok seperti Diana Kalera Lena, seorang penenun asli Sumba yang telah akrab dengan benang dan alat tenun sejak usia enam tahun. Bagi Diana dan banyak perempuan di sana, menenun adalah napas kehidupan, sebuah tradisi yang mengakar dan penuh makna.
"Menenun bukan sekadar keterampilan, melainkan tradisi yang sudah mengakar kuat dalam kehidupan perempuan Sumba sejak usia belia," tuturnya.
Dia mengakui bahwa proses panjang dari awal hingga menjadi sehelai kain utuh membutuhkan ketekunan dan dedikasi waktu yang luar biasa.
"Proses menenun dari tahapan awal sampai menjadi sehelai kain itu butuh proses panjang," jelas Diana.
Program Pembinaan untuk Menguatkan Akar Budaya
Upaya melestarikan sekaligus memajukan kerajinan tenun ini mendapat dukungan melalui program pelatihan wastra warna alam yang dijalankan oleh Bakti BCA, berkolaborasi dengan Perkumpulan Warna Alam Indonesia (WARLAMI). Program ini menyentuh langsung inti permasalahan: bagaimana menjaga kemurnian teknik pewarnaan alami warisan leluhur yang mulai tergerus.
Diana, yang menjadi pionir dari komunitasnya, kemudian mengajak 13 penenun lain untuk bergabung. Pelatihan yang melibatkan 50 peserta dari berbagai desa ini tidak hanya untuk perempuan, tetapi juga melibatkan pria dalam pengembangan motif dan pengolahan bahan, memperkuat ekosistem tenun secara keseluruhan.
Artikel Terkait
Analis Prediksi Harga Pertalite Berpotensi Naik 10-15 Persen
KAI Daop 1 Jakarta Siapkan 200 Ribu Kursi untuk Periode Arus Balik Lebaran
Arus Balik Lebaran 2026 Belum Reda, 52 Ribu Penumpang Tiba di Stasiun Jakarta
Bapanas Perkuat Cadangan Pangan Antisipasi Godzilla El Nino 2026