Salah satu manfaat terbesar dari program ini, menurut Diana, adalah terbukanya akses terhadap resep dan proses pewarnaan alami yang selama ini tidak terdokumentasi dengan baik dan berisiko hilang.
“Tidak semua penenun tahu rahasia ramuan dari nenek moyang karena resep ramuannya tidak dipublikasikan. Sejak bergabung dengan program Bakti BCA kami diajarkan soal pewarna alam ini,” ungkapnya.
Pelatihan terstruktur itu mengajarkan para penenun menguasai proses produksi secara utuh, dari mengidentifikasi bahan alam, meracik, hingga menerapkannya pada benang. Hal ini menggeser ketergantungan pada pewarna sintetis dan mengembalikan kejayaan warna-warna alamiah yang ramah lingkungan.
Dampak Nyata: Dari Pelestarian ke Peningkatan Ekonomi
Ilmu yang didapatkan langsung berubah menjadi nilai tambah. Tenun dengan pewarna alam tidak hanya lebih autentik dan bernilai budaya tinggi, tetapi juga memiliki daya jual yang lebih baik. Diana merasakan langsung dampak ekonominya.
"Saya sudah merasakan manfaatnya. Sebagai istri, penghasilan dari menenun bisa membantu suami saya, termasuk dalam membiayai sekolah anak. Warisan budaya ini tentunya harus terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya,” katanya dengan penuh harap.
Dia berkeinginan agar tenun Sumba tidak lagi hanya dilihat sebagai cenderamata atau perlengkapan upacara, tetapi sebagai produk budaya bernilai ekonomi tinggi yang dapat menarik perhatian dunia.
Komitmen Jangka Panjang untuk Keberlanjutan
Menanggapi hal ini, Hera F Haryn, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, menegaskan bahwa komitmen mereka melampaui sekadar pelatihan. Fokusnya adalah menciptakan keberlanjutan dengan mempermudah akses pasar bagi produk-produk komunitas.
“Para penenun Sumba sebagai tangan yang menjaga warisan budaya Indonesia harus mendapatkan dukungan. Melalui program pembinaan dari Bakti BCA, perusahaan ingin memastikan keahlian penenun tidak hanya terjaga dan berkesinambungan, tetapi juga mampu bersaing di pasar modern,” papar Hera.
Inisiatif ini pada akhirnya diharapkan dapat memperkuat posisi tenun Sumba sebagai simbol budaya yang lestari, sekaligus menjadi penggerak roda ekonomi bagi para penjaga warisan leluhur di pulau yang memesona tersebut.
Artikel Terkait
Analis Prediksi Harga Pertalite Berpotensi Naik 10-15 Persen
KAI Daop 1 Jakarta Siapkan 200 Ribu Kursi untuk Periode Arus Balik Lebaran
Arus Balik Lebaran 2026 Belum Reda, 52 Ribu Penumpang Tiba di Stasiun Jakarta
Bapanas Perkuat Cadangan Pangan Antisipasi Godzilla El Nino 2026